Kontak Info

Untuk info dan pemesanan silakan kontak gw di

Email : Hentai232@gmail.com
Email / YM : Hentaigame@ymail.com
Line ID : Hentai232
Pin Blackberry : 32628C2B


Silakan diadd / email bro, gw ol trus dari jam 8.00 pagi
s/d jam 10.00 malam

( langsung gw balas, g pake lama / tunggu )


Kamis, 28 November 2013

Keliaran dan Kebinalanku Membuat Suamiku Horny


Tag : Cerita Swinger , Cewek Bispak , Cerita Dewasa , Cantik , Cewek , Sex , Panas , Tukar Pasangan ,  Perek , Selingkuh

Cantik, sexy & berani, itulah aku. Ga tinggi-tinggi amat, berat 160cm, beratku 48an kg, bra 34C, ga gede-gede amat sih, tapi ga kecil juga. Body ramping. Muka oval, oriental asian face… dengan rambut panjang sepunggung yang di cat dark brown.


Sebelumnya kenalin, namaku Vivy, umurku 26thn, married dengan cowok yang sanggup memenuhi semua kebutuhanku. Namanya Hendra, berumur 32 tahun dan seorang Bisnisman yang selalu sibuk dengan segala macam urusannya.


Sebelum married, aku ga punya kerjaan tetep, kadang aja ada yang nawarin kerja sebagai SPG, mulai dari Rokok ternama sampai produk Automotive. Kadang-kadang ada yang meminta untuk handle penjualan/pameran property. Selama fee-nya kurasa sebanding, aku ga menolak. Aku ga betah bekerja terikat di suatu perusahaan, lebih suka bebas. Sampai aku married, my hubby memintaku untuk pensiun dan stay at home.


Aku tinggal di kawasan pemukiman yang terbilang elite dengan segala macam fasilitasnya. Rumah kami pun bertype tunggal dengan halaman yang cukup luas. Aku merasa nyaman dengan kehidupanku, terkecuali jenuhku yang belakangan datang melanda. Aku terbiasa hidup bebas, bekerja, jalan-jalan, shoping, hangout sampai dugem. After married, my hubby melarangku untuk “mengulangnya”.


Pernah suatu ketika aku memohon kepadanya untuk mengijinkanku bekerja, dia hanya menjawab, “You’re mine now, beibs…” My hubby cukup tahu pekerjaanku di waktu silam, mungkin juga segala keliaranku. Aku pun menghargainya karena dia mau menerimaku apa adanya dan juga takut kehilangan semua yang kunikmati sekarang. Diapun tak mempersoalkan kesucian diriku karena aku sudah berkata sejujurnya. Bekerja sebagai “contract girl” menuntutku dan menyeretkan untuk melakukan apa saja demi fee atau bayaran yang kuterima. Yupps… aku pernah tidur dengan beberapa orang, aku rela berpakain seronok sesuai pekerjaanku, bahkan… aku rela difoto bugil untuk beberapa klub fotografer mesum yang berkedok sebagai “fotografer”, hihihi.


Di rumah, aku tinggal seorang diri. Rumah besar dengan segala macam perabotannya. Hanya seorang pembantu dan suaminya yang menempati kamar di belakang yang merawat dan membersihkan rumahku. Aku sendiri tidak perlu bekerja di rumah, sudah ada yang mengurusku. Jadilah aku seorang house wife yang lonely. My hubby sering pulang malam dari tempatnya bekerja. Terkadang memeriksa laporan keuangan dan transaksi atau juga menemani beberapa client, sekedar makan malam atau mencari hiburan di pusat kotabersama clientnya.


Jika malam menjelang, aku hanya duduk sendiri di ruang tengah ditemani rokok dan segelas wine ataupun sekedar minuman hangat. Sering gairahku tiba-tiba melonjak dan aku hanya bisa menahannya. Paling hanya menelpon my hubby dan bertanya ada dimana dan kapan pulang.


Seperti malam ini, aku menelponnya.


“Hi, honey… where are you?”


My hubby bilang dia sedang berada di pusat kotamenemani client makan malam dan menyenangkan hati mereka.


“Oww… with some chicks honey?”


“Yup, honey… for my client, not for me,” kilah my hubby. “Ga ada apa-apanya dibanding kamu,”


Yah… setidaknya my hubby jujur mengatakan posisinya berada dan ga sembunyi-sembunyi mengunjungi tempat-tempat seperti itu. Tiba-tiba terlintas ide di kepalaku.


“ You know honey, let me entertaint you, tonight.”


“How? I’m still stuck here,” My hubby bingung.


“I’ll come for you, only half hour to prepare and half hour again to get there.”


“Ga usah, beibs… its okay, I’m fine here.”


“Hey… Cuma nambah satu chick lagi kan, spesial chick for you, only for you. You said you can’t enjoy the party becouse I’m more than them, come on baby…” aku merengek kepada my hubby. Akhirnya my Hubby menyerah dan memberitahu posisinya dan roomnya. Dia akan mengirimkan mobil dan sopirnya segera.


Aku langsung berlari menuju kamarku, aku mengambil gaun pesta pendek, well… sedikit menerawang. Karena pada dasarnya aku sudah horny, sengaja aku mengambil gaun yang menurutku paling sexy. Gaun tipis dari bahan chifon tipis yang diikatkan pada tengkuk leher, terbuka di bagian depan hingga perut, pentupnya hanya helaian kain bagian depan yang menutup my boobs.


Totally backless… hanya menutupi bongkahan pantat ke bawah dengan longgar, tidak ketat dan berkibar karena bahannya tipis, belahan pantatku terlihat dan menyembul karena dressnya aku tarik ke bawah. Aku pakai G string merah dengan T-back pengikat tali pinggang dan selangkangan dari bahan perak mengkilap. Ketika kukenakan T-Back di atas belahan pantatku melewati gaun yang menutup pantarku. Well… so bitchy tonight. Aku ingat ketika aku masih lajang dan suka hangout bersama gank-ku dulu dan memakai pakaian sexy begini. Tak lupa aku membawa pakaian kejutan buat my hubby.


Tapi… sepertinya aku butuh sedikit “tester” deh. Hmm… di rumah tidak ada korban. Tidak ada ide lagi, akhirnya aku berteriak dari ruang tengah setelah lampu ruangan tengah kunyalakan dan terang benderang, “Bang Mamattt…” aku memanggil suami pembantuku.


Bang Mamat datang tergopoh-gopoh. Aku sengaja berdiri membelakanginya sambil menghadap cermin besar di ruang tengah. Aku tahu Bang Mamat sudah berdiri di belakangku. Kubiarkan dia sejenak menikmati pemandangan indah. Usianya sekitar 40 thnan dengan badan kurus, tapi sejenak aku melirik ke bagian bawah tubuhnya dan tersenyum melihat ada tonjolan di balik sarungnya. Dari belakang, aku seperti tidak mengenakan apapun dari punggung ke bagian bawah, bahkan belahan pantatku sedikit terlihat ditutupi tali G-String. Bang Mamat rupanya salah tingkah melihatku seperti itu. Yess... sudah cukup OK sepertinya.


Kurasa cukup dan aku lalu berkata, “Bang, saya pergi ya mau jemput Bapak… tolong kunci pintunya yah. Saya bawa kunci cadangan, nanti gampang bisa masuk sendiri.” Aku bisa sih mengunci sendiri tapi sengaja aku panggil Bang Mamat untuk sekedar pamer body dulu. Aku berbicara sambil terus membelakangi Bang Mamat


“I-iya, Nya…”


Aku langsung membalikan badanku dan berkata, “Ayo anter saya ke gerbang depan…”


“Sekarang, Nya? Tidak ganti baju dulu?” dengan gugup bang Mamat bertanya.


Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, ohhh… alangkah lugunya, tidak mengerti model clubbing dress yang aku kenakan ini. “Kenapa? Baju ini jelek?” aku memancingnya.


“Tidak, Nyonya… bu… bukan begitu… saya kira ini baju rumah…” tukas Bang Mamat.


“Ohh… ini baju pesta, udah agak lama sih jarang saya pake, nanti akan sering-sering saya pake baju-baju yang model begini. Bagus ga?”


“I-iya, Nya…”


“Ya sudah, antar saya ke depan dan buka pintunya,”


“Ba-baik, Nyonya…”


Bang Mamat berlari ke pintu dan membukakannya untukku. Mobil jemputanku belum datang, aku mengobrol dengan Bang Mamat di pintu pagar sambil menunggu mobil. Aku melihat jakun lelaki 40 tahun ini trus menerus meneguk liurnya, entah apa yang dipikirkannya saat ini.


Mobil jemputanku tiba dan aku duduk di belakang. Pukul 22.00 malam, jalanan Jakarta tak seberapa macet. Aku tiba di club M di kawasan Kota. Mobil tidak bisa mengantarkanku sampai di depan teras lobby gedung, terpaksa aku harus berjalan sedikit untuk masuk ke gedung. Aku merasa gugup ketika berjalan dari mobil hingga lobby gedung. Semua mata memandangku tajam, seperti aku ga memakai busana sama sekali. Memang busanaku lebih cock dipergunakan untuk suasana yang lebih intim… Tetapi aku malah merasa horny diperhatikan banyak pria, terasa G-stringku sudah mulai basah. Beberapa anak muda yang akan hangout malah mengapitku dan menegurku.


“Mbak, sexy-nya gila… boleh minta fotonya donk…”


Sebelum sempat menjawab ada seseorang yang menarik tanganku dan mendekatkan mukanya serasa mengarahkan kamera ponselnya… aihh, kaya artis aja. Hihihi. Mereka dengan ramah menjulurkan tangannya dan kusambut. Mereka memperkenalkan diri satu persatu dan aku menyebutkan namaku.


“Yuk, anterin aku masuk, dah ditunggu nih,”


“Yah… kirain free,”


Aku sedkit menggodanya dan berkata, “I’ll be arround,”


Aku tertarik dengan salah satu dari mereka, namanya Markus. Aku merapatkan badanku dengan badannya dan dia memeluk pinggangku seraya berjalan ke arah lift. Salah seorang GRO menyambut kami dan menunjukan sofa di sudut yang temaram dan nyaman. Aku duduk sebentar mengobrol dengan mereka. Beberapa dancer topless tengah meliukkan badannya di atas panggung, aku sedikit bergoyang walaupun masih duduk di sofa empuk kami. Bagian bawah dressku tertarik hingga sudah tidak bisa menutupi G-String yang ada di selangkanganku. Aku cuek saja…


Kalo Lampunya terang sudah pasti mereka dapat melihat rambut vaginaku dan bibirnya karena g-stringku tipis dan mini. Aku sedikit menggoda mereka dengan mengangkat pantatku, berdiri agak menungging dan menundukan badanku seolah mengambil menu minuman yang ada di meja. Well, alhasil my Boobs menggantung dengan bebas. Markus menarikku untuk duduk di pangkuannya hingga aku terjatuh dipangkuannya.


“Ouwwhh, nakal yah…”


“Yup… Gw pingin nakal bersamamu,”


Aku menikmati sentuhan tangan Markus yang bergerilya mengusap perut dan naik ke arah boobs-ku.


Tiba-tiba ponselku bergetar dan kulihat ada message dari my hubby menanyakan keberadaanku. Aku balas dan bilang masih di rest room. Aku berbalik ke arah Markus dan mengecup bibirnya.


“I have to go, don’t go anywhere, I’ll be back for you,”


“Okay, I’ll be here,”


Aku berdiri merapikan dress ku dan berlari ke rest room sekedar memeriksa make up dan merapikan dress ku. Aku segera keluar dan bertanya ke waiter ruangan VIP my Hubby. Sang Waiter mengantarku ke VIP Room yang dimaksud. Tanpa mengetuk pintu aku segera masuk.


“Hi, honey,” Aku menghambur ke pelukan my Hubby. Aku mengecup bibirnya sebentar dan melihat ke isi ruangan. Dua orang Streap Dancer yang kutahu setelah berkenalan, Sisy dan Vina yang sedang meliukkan badannya, tinggal bra dan celana dalam yang melekat di badannya. Tiga orang lelaki (salah satunya my hubby) dan dua orang LC masing-masing mengapit mesra kedua rekan bisnis my hubby. Aku masih berdiri dan sambil membukukkan badanku aku menyalami mereka satu persatu. Sekedar show body dulu, hihihi. Aku bercakap-cakap ringan sambil berdiri dan sedikit membungkukkan badanku. Payudaraku sudah menggantung kemana-mana, I feel so sexy tonight.


“Oww… Mr. Hendra Wife, nice to meet you, you’re look wonderfull.”


Mr A Siang dan Mr. Rudy. Ada Rika dan Lusi yang masing-masing mengapit mereka. Aku tersenyum melihat pakaian mereka sudah bertebaran di sudut lantai, hanya mengenakan Bra dan CD saja. Mata mereka tak pernah luput dari melihat tubuhku. Aku tersenyum bangga dan tambah horny.


‘Honey, kanapa ga order cewek nih buat nemenin?” Aku liat my hubby duduk sendiri.


“Because of you,”


“Oww… Is it right? I have something special for you,” tukasku.


“Apa tuh?”


“The other side of me,”


“What??” My hubby rupanya tidak terlalu mengerti.


“Hmm… you look so sexy tonight, almost nude, malah ga usah pake baju aja kali.”


My hubby berusaha protes kepadaku.


“Boleh?” Aku langsung balik bertanya


“Apanya yang boleh, kamu mau naked di sini, jangan gila donk.”


“Okay honey, if u said No, I’ll follow everything you said to me, OK.” Tanganku sedikit bergerilnya di selangkangan suamiku… oww, sudah mengeras rupanya. “You like it, right?” aku bertanya.


“What?”


“My Dress, tonight…”


“I’m Jelouse, but… I feel excited too, I have hot wife.”


“I’ll service you, tonight.”


Party terus berjalan, kami meminum coctail dan memesan beberapa macam minuman lagi diselingi canda tawa. Aku duduk di pangkuan suamiku. Aku memberikan sinyal kepada dua orang dancer di depan kami untuk mulai menanggalkan CD dan bra mereka.


Mereka dengan gayaerotis menanggalkan bajunya, sementara aku menggoda Sisy dan Vina untuk menanggalkan pakaian dan berteriak kepada mereka untuk berusaha merayu Mr. Asiang dan Mr. Rudy untuk melepas kemeja mereka. Mereka menurutinya dan langsung mendekam di pelukan A Siang dan Rudy. Keliatannya my hubby sudah agak mabuk, A Siang dan Rudy sedang asyik dengan mainan mereka, 4 girls melawan 2 man, hihihi. Aku memberikan aba-aba kepada salah seorang dancer di depan untuk mendekat dan mengerjain my hubby.


“It’s OK, honey… Just foreplay… not intercourse,” aku meyakinkan Hendra.


Sisy segera memberikan lap-dance di tubuh suamiku dan aku berbisik untuk membuka celana suamiku. Pada awalnya My hubby menolak. Aku mengerti, rupaya my hubby belum sepenuhnya naik. Aku maju dan dance bersama Vina. Kami saling memegang, meraba dan tertawa. Mr A Siang yang melihatku begitu langsung berdiri dan menarik simpul ikatan dress di leherku. Bajuku langsung jatuh ke bawah karena tidak tidak ada lagi simpul lainnya yang menahan.


“Oww… Mr. Asiang, malu ahh…” aku hanya berteriak kecil sambil menutupi kedua boobs ku. Aku tarik kembali bajuku dan tetap memeganginya menutupi payudaraku. Bisa saja aku tidak menutupi tubuhku, tapi aku pikir terlalu dini to be naked.


A Siang tertawa dan Rudy ganti mendekat dan merangkulku untuk mengajakku menari. Aku menari melenggokkan badanku bersama Mr. Rudi. Laki-laki itu memeluk pinggangku erat.


Aku terus menari di sekililing ruangan dan berjalan hilir mudik. My hubby dengan mata sayu menatapku, antara mabuk dan horny. Tanpa sadar celananya sudah melorot ke bawah dan penisnya yang mengacung tegak dipegang oleh Sisy. Gadis itu mengelus-elus penis Hendra dan dengan gerakan erotis mulai mengulumnya.


“Teruskan, Sy… buat sampe klimas.” tukasku.


Mr. A Siang menyergapku dari belakang. “Yeah, Vy… angkat tanganmu.”


Dia memegang pinggangku dan memeras kedua boobs ku. Aku lepas dress ku dan membiarkan jatuh ke lantai. Yupp… aku sengaja ingin memperlihatkan kepada My hubby tercintaku ketika dicumbu dengan orang lain. Aku melirik penis suamiku yang makin keras dan panjang. Mr. A Siang berusaha untuk memasukkan tangannya ke dalam G-String yang masih kupakai. Namun selalu kutepis. Sempat melorot sedikit tapi aku naikkan lagi. Sebenarnya aku sudah terangsang berat, tapi aku tidak ingin dicumbu terlalu intim, Aku menjaga perasaan Hendra. Kulihat mata Hendra makin sayu dan aku berpikir, inilah saatnya.


Aku permisi dulu kepada A Siang untuk menghampiri suamiku. Aku berjalan mendekati Hendra, aq turunkan G-Stringku, kuminta Sisy berpindah ke samping dan kuminta Vina juga mendekat. Aku sudah telanjang bulat. Aku minta Sisy dan Vina memeluk badan suamiku dari samping kiri dan kanan.


“This time, honey…” aku berbisik.


“Yeachh, I want to fuck u here babe…”


“Yes you will…”


Aku mengangkang di depan suamiku, kutarik celananya hingga terlepas dengan penis yang mengacung tegak ke atas. Masih mengkilap karena habis dilumat oleh Sisy. Vina dan Sysy menjilati tubuh Hendra dengan rakusnya. Dengan perlahan aku merendahkan posisiku dan beberapa detik kemudian…


Jleebb…!!! Seluruh batang penisnya terbenam di vaginaku.


“Oucchhhh,” Hendra melenguh.


“Acchhh…” aku menjerit. Aku memompa sekuat tenaga dengan gerakan naik turun dan maju mundur…


“ Fuck me harder honey…”


Tubuhku terguncang guncang…


Plak… Plak… Plak… Bokongku beradu dengan paha suamiku. Vina dan Sisy merangkul Hendra sambil menjilati dada dan puting Hendra.


Akhirnya badan kami sama-sama kejang dan… “Seerrrrrr!!!“ Aku mendapat puncak kenikmatan duluan.


“Crotttt… Crott… crotttt...” Sperma suamiku menyemprot ke dalam liang vaginaku tak lama kemudian.


Selama 2 menit kami terdiam.


“Gimana rasanya honey, fucking your wife dan orgasme dengan diapit 2 bidadari cantik?”


“You’re a wild rose, babe… Still wild until now,”


“Yup, honey… Rose is Rose, never be a Jasmine. Kombinasi antara keindahan dan sifat liarnya. Yeach babe, for you I’ll be everything you want. Kalo kamu memintaku untuk duduk diam dan mekar di taman dan kerajaanmu, aku akan menurutinya. Tapi kalo kamu biarkan aku terbang dan berkembang seperti tadi, aku siap menjalaninya. Aku tetap milikmu, no one can touch me deeply like you. Nikmati saja sensasinya.”


“OK baby, I’ll let u fly… wherever you want to go… whatever you wanna be…”


“Thank you, honey… I promise I’ll be yours forever.” Aku menciumnya dengan mesra. Tak sadar jika penisnya masih menancap di vaginaku dan baru tersadar saat lendir cintanya mulai merembes keluar.


Segera aku lari ke rest room, membersihkan sisa-sisa sperma di dalam vaginaku. Aku baru ingat di tasku aku membawa lingerie sebagai pakaian ganti. Aku segera keluar dan aku tersenyum melihat pemandangan di dalam ruangan. Mr. A Siang dan Mr. Rudy tak mau kalah, mereka asyik bercinta dengan LC mereka. Disaksikan oleh Sisy dan Vina.


Aku segera mencari dan mengenakan G string ku dan aku menarik My hubby keluar room.


“Oh, Shit… kamu ga pake sesuatu dulu untuk menutupi tubuhmu?”


“It’s OK, honey, you’ll see…”


Sebelum married, aku sudah beberapa kali hangout di tempat itu dan sudah tahu benar acara apa yang sedang berlangsung di hall.


Tebakanku tak salah, di atas panggung, para dancer sedang meliukkan badannya tanpa sehelai benang pun dan di bawah… beberapa dancer menjajakan minuman Ladies Drink mereka, hanya memakai g-string dan topless…


“You see, honey… I look like them. Jika aku bugil pun, aku tidak akan mencolok sedikitpun…”


“I see,” gumam Hendra.


“Lets have some fun here… biarkan A Siang dan Rudy menuntaskan birahinya di room.”


Kami mengitari panggung untuk mencari meja kosong, tapi pengunjung sedang padat dan kami tidak mendapatkannya. Akhirnya aku tarik tangan my hubby ke tengah hall dan here we are… Dance dengan tubuh rapat . Aku hanya mengenakan G-String saja dipeluk oleh Hendra dari belakang. Tangan Hendra mengelus boobs ku dan nafsuku kembali naik. Kami dikelilingi oleh orang-orang yang berdecak kagum melihat tubuhku yang telanjang ini. Beberapa orang dengan iseng mencolek beberapa bagian tubuhku, aku biarkan saja. Dengan gerakan erotis aku mengangkat tangan ke belakang dan memegang kepala my hubby dari depan. Ada yang tidak tahan di tengah kerumunan tiba-tiba meremas payudaraku dan menjilatnya. Aku hanya mendesis…


“Honey, I think I want more,” aku berbisik.


“Let me rest for a while… at least 1 hour, beibs.”


“I know how make u fresh and mood again. Just stay there,” aku menunjuk suatu tempat di samping pilar. “I’ll be back, just watch me where I’m going,” kataku tersenyum dan mengecup bibirnya.


Aku meninggalkan Hendra dan berjalan ke meja pojok. Meja itu sudah penuh dengan botol dan gelas serta tempat es batu. Sofanya penuh dengan pasangan gerombolan Markus dan kawan-kawannya, asyik bermasyuk ria dengan beberapa orang LC.


Aku menghempaskan pantatku di sofa itu.


“Hi, I’m back…”


Markus takjub melihatku yang bertelanjang dada. “Wow, Vy… you look great!!”


“Can I have some drink here?”


‘Sure, Vy… just order whatever you want.”


“No, cukup ini saja.”


Aku bangkit membelakangi Markus menghadap meja, menunduk dan mengambil gelas, es batu dan menuangkan Blue Label. Pantatku persis berada di depan Markus. Belum selesai aku menuangkan minuman, aku sudah ditarik dan jatuh terduduk di pangkuan Markus.


“I want you tonight,” Markus berbisik.


“Now?” aku tersenyum menjawabnya.


“Yeah, now…”


Aku membalikkan badan dengan manja dan bergelayut di lengannya. Markus menciumku dan tangannya dengan nakal langsung menyusup ke dalam G Stringku…


“Ouchh…” aku menjerit kecil ketika jemari Markus masuk ke dalam liang vaginaku.


Aku kuatir Hendra akan melihat ini dan aku juga kuatir aku tidak dapat mengontrol diriku. Aku naik di tengah sofa sambil menghadap suami yang berada di ujung pilar, membelakangi suamiku yang melihat dari kejauhan. Aku melihat kesempatan ini, aku bisa intercourse dengan Markus tanpa terlihat. Aku membuka zipper celana Markus, membuka dan memelorotkannya sedikit. Batang penis Markus mencuat, aku sibakkan G-Stringku di bagian bibir vaginaku dan segera kupasang posisi kepalanya tepat disitu. Lalu aku menghentakannya ke bawah kuat-kuat.


Jlebb…!!!


“Ouchh…” aku menjerit dan mulai menggoyang perlahan.


“Mainkan pinggulmu,” aku berbisik ke arah Markus.


Aku menaik turunkan pinggulku perlahan. Aku tahu, tidak akan terasa nyaman berhubungan sex dengan cara seperti ini, jadi aku hentikan saja.


“Another day, another time, I’ll call u!” bisikku. Aku berdiri dan dengan cepat merapikan G String ku kembali.


Markus merogoh dompetnya dan memberikan secarik kartu nama. Aku lipat dan aku sembunyikan di balik G Stringku. Aku kecup kening Markus dan pergi.


Aku kembali pada Hendra…


“You saw that?” aku bertanya.


“ Yeah… Pretty wild,” jawab Hendra.


“Lets go home… I can’t wait, just fuck me, honey.”


“ OK…”


Kami kembali ke room dan pertarungan di room telah usai. Kami bersiap pulang dan aku memakai Lingerie yang aku bawa dari rumah. Lingerie dari bahan tipis bermotif bunga. Sebenarnya bahannya sangat tipis, hanya motif bunga yang memberikan kesan menutupi bagian-bagian tertentu tubuhku. Panjangnya hanya separuh pantatku.


Kami harus mengantar Mr. A Siang dan Mr Edy kembali ke hotel mereka tempat menginap. Mobil cuman satu dan terpaksa kami berhimpit berlima termasuk supir di mobil Hendra. Aku duduk di pinggir di jok belakang. Hendra dan Edy di sampingku. Di depan Supir dan A Siang. Tiba di teras Lobby hotel, aku harus turun untuk mempersilahkan Mr. A Siang dan Edy turun. Ketika aku turun, beberapa security hotel berdehem melihat penampilanku. Aku tidak menghiraukan mereka. Di pintu hotel kami bersalaman dan cipika-cipiki. Aku tak peduliku security hotel melotot melihat pantatku yang terekspos bebas. Hendra kelihatan gugup melihatku. Aku mengedipkan sebelah mataku.


Kami segera pulang, Sopir kami turunkan sebelum masuk komplek perumahan kami karena dia akan pulang ke rumahnya sendiri. Hendra my hubby membawa mobil dan kesempatan ini tak kusia-siakan, sambil menyetir aku meloloskan celana Hendra dan segera kulumat batang penisnya.


Ketika masuk komplek perumahan, Satpam yang membukakan portal tidak menyadari aku tengah melumat dan mengocok penis Hendra.


Hendra turun dan mematikan mesin. Mobil kami parkir di jalanan komplek karena cukup aman. Aku setengah berlari masuk ke pagar rumah kuatir tetangga melihat. Hendra mengunci kembali pintu pagar dan menggandengku masuk ke rumah. Namun aku berpikiran lain, aku menarik tangan my hubby ke taman di depan rumah…


“Come on, honey… udah ga tahan nih…”


“Here?” My Hubby balik bertanya.


“Yup… fuck me here,”


Kami bercinta di gazebo taman depan rumah. Sensasinya luar biasa, antara birahi dan takut kelihatan tetangga karena rumah di blok kami berlantai dua semua.


Aku lihat lampu-lampu ruangan rumah depan mati semua…. I don’t know, mungkin saja ada pengintip atau memang tidak ada yg melihat. Aku hanya mendengar deru sepeda motor yang berhenti di depan rumah untuk memeriksa mobil My Hubby karena terparkir di depan rumah. Kami saling menahan napas dan berusaha untuk tidak melenguh dan mengeluarkan suara. Kami teruskan bercinta sewaktu security telah pergi.


What a Wild Night...


Kami sama-sama orgasme dan masuk ke dalam rumah satu jam kemudian, meninggalkan Lingerieku yang tergeletak di kursi taman. Sengaja aku tinggal untuk ditemukan oleh Bang Mamat, hihihi…


Yup, dengan inilah cerita petualanganku dimulai. Permitt dari my hubby yang membebaskan aku untuk ber sexy dan mengembalikan sisi wildku.


Kehidupan sex kami semakin bergairah karena petualangan sex kami…

Author : Unknown
( Bagi yang tau siapa penulis aslinya, silakan kontak gw, supaya bisa gw lampirkan ^^ )

Tidak ada komentar: