Kontak Info

Untuk info dan pemesanan silakan kontak gw di

Email : Hentai232@gmail.com
Email / YM : Hentaigame@ymail.com
Line ID : Hentai232
Pin Blackberry : 32628C2B


Silakan diadd / email bro, gw ol trus dari jam 8.00 pagi
s/d jam 10.00 malam

( langsung gw balas, g pake lama / tunggu )


Kamis, 28 November 2013

Rangsangan Berselingkuh 5-8


:: Rangsangan Berselingkuh 5-8::

Attention: Semua cerita postinganku adalah hasil dari translate / terjemahan. Sekedar berbagi tanpa ada maksud lain...
Judul asli: Aroused by Cheating byxlegloverc

Bagian 5

"Coba lihat cincinnya," kata Sarah. Dengan tersenyum, Mila mengangkat tangan kirinya. "Oh my god, berliannya sangat besar!"

Aldi berkata dengan tersenyum, "Ayolah, keretanya sudah datang." Kedua pasangan tersebut naik ke dalam kereta. Mereka sedang dalam perjalanan menuju pesta, yang diadakan untuk merayakan pertunangan Aldi dengan Mila. Mereka memilih naik kereta karena lalu lintas ke arah kota sangat macet.

"Bimo, kamu lihat tadi berlian yang diberikan Aldi untuk Mila?" Sarah bertanya pada suaminya. "Sangat besar!"



Bimo tersenyum dan mengangguk. Tapi dia membatin dalam hati, "Aku tahu apa yang diharapkan Mila berukuran besar." Sembari memikirkan itu, mata Bimo menatap tajam pada mata Mila dan dia jadi merona. Bimo tersenyum, menyadari mereka memikirkan hal yang sama.

Seiring penumpang yang semakin memenuhi kereta, Mila dan Bimo terpisah dengan Aldi dan Sarah. Mereka sebenarnya terpisah hanya beberapa meter saja, tapi terhalang oleh orang-orang disekelilingnya. Mila dan Aldi masih bisa saling melihat wajah, tapi tak lebih dari itu. Bimo menggapai ke bawah dan menyentuh cincin pertunangan Mila. "Oh, baby, ini sangat besar," godanya. "Apa ini bisa membuatmu puas?"

Mila hampir mulai memelototi Bimo, tapi dia lalu ingat kalau Aldi bisa melihatnya dan dia tak mau nanti harus menjelaskan kenapa dia marah pada Bimo. Dia paksakan memasang sebuah senyuman di wajahnya dan berkata, "Diam, brengsek. Apa nggak bisa kamu merasa bahagia untukku? Aku akan menikah."

Tangan Bimo bergerak ke paha Mila. Di dalam kereta sangat ramai beredesak-desakan, tak seorangpun bisa melihat apa yang dia lakukan. Dia susuri garter strap Mila dari luar roknya. "Oh, aku senang, sangat senang," kata Bimo dengan senyum iblisnya. "Sekarang aku bisa tidur dengan tunangan pria lain dan sebentar lagi jadi isteri pria itu."

"Itu nggak mungkin terjadi," jawab Mila dan dia coba tepiskan tangan Bimo menjauh. Tapi Bimo tetap memaksa dan Mila tak bisa melakukan tindakan yang akan memancing kecurigaan Aldi dan Sarah. Bimo menyadari kebingungannya tersebut dan semakin menekan kesempatannya. Dia gerakkan tangannya ke dalam rok mini Mila dan ujung jarinya mulai membuat gerakan melingkar di paha Mila. Jemari Bimo terus bergerak naik hingga dapat dia sentuh permukaan kulit Mila di atas pangkal stockingnya dan hampir saja Mila terlonjak kaget saat jemari Bimo menyerempet celana dalamnya.

"Kamu sudah basah," komentarnya dan Mila tahu bahwa Bimo memang benar. Mila telah berhasil  menjauh dari Bimo sejak bertunangan. Dia sangat ingin setia pada Aldi. Tapi itu suara hatinya. Tubuhnya memegang kendali sekarang ini dan merindukan untuk disetubuhi dengan kasar oleh sebatang penis yang berukuran besar. Dia sungguh mencintai Aldi, tapi Aldi tak mampu memberi apa yang diinginkan tubuhnya.

"Jangan goda aku," dia memohon.

Bimo masih menyeringai, jarinya beringsut memasuki celana dalam Mila dan menyentuh kelentitnya. "Oh, aku minta maaf, apa aku menggodamu?"

"Bajingan kamu!" umpat Mila dengan marah. Tak lagi peduli apakah Aldi dan Sarah mungkin melihatnya, dengan kasar dia dorong Bimo menjauh. Untung saja, kereta dalam keadaan penuh hingga Aldi dan Sarah tak melihatnya. Dalam sisa perjalanan tersebut, Mila menjaga jarak dari Bimo, namun godaan Bimo tadi telah membuat rasa gatal dalam vaginanya serasa makin tak tertahankan. Mila berusaha mengacuhkan itu, dia berjanji pada dirinya bahwa di pesta nanti dia akan menjauh dari Bimo.

Saat akhirnya kereta tersebut berhenti, Aldi langsung mendekati tunangan barunya dan menanyakan apakah semuanya baik-baik saja. Mila meyakinkannya bahwa semuanya baik saja. Aldi melirik ke arah dada Mila. Putingnya begitu mencuat keras hingga hampir terlihat samar dari balik blousenya. Rasa marah menggelegak dalam diri Aldi begitu dia menyadari apa yang sudah diperbuat Bimo. Dia merasa dilecehkan, meskipun, dia juga merasakan selangkangannya jadi sesak membayangkan apa yang dilakukan Bimo terhadap tunangannya.

Disepanjang pesta tersebut, Aldi terus merasakan birahinya membara dan langsung saja dia seret Mila ke dalam kamar begitu mereka tiba di rumah. Tapi karena terlalu tinggi birahinya, hingga hanya dalam beberapa sodokan saja dia sudah lansung ejakulasi.

Aldi gulingkan tubuhnya dari atas Mila dan langsung terlelap. Percintaan mereka semakin memburuk dibandingkan biasanya, semakin membuat birahi Mila tak terpuaskan. Dengan jemari yang gemetar, tangannya bergerak ke bawah tubuhnya dan mulai mencari pelepasan sendiri. Dia butuh pelepasan, meskipun tahu itu tidaklah cukup.

Bagian 6

Mila melihat sekelilingnya dengan grogi dan dengan cepat melangkah masuk ke dalam toko tersebut. Dia tak mau terlihat oleh seseorang yang mengenalnya. Dengan malu-malu dia amati barang yang terpajang, hingga akhirnya dia temukan apa yang dicarinya. Dia melangkah ke bagian belakang sex store tersebut dan mengamati semua ragam dildo yang dijual.

Harus dia temukan solusi untuk masalahnya. Dia ingin untuk tetap setia pada Aldi. Dia mulai membenci Bimo yang telah bersikap begitu memuakkan dan memperlakukannya seakan hanyalah sex toynya belaka. Mungkin dia memang pantas mendapatkannya, tapi dia mantapkan hati untuk tak akan menemui Bimo lagi.

Namun tubuhnya tak bisa memungkiri. Aldi memang bisa memberinya segalanya selain kebutuhan seksualnya. Bukan hanya masalah ukuran belaka. Aldi bukanlah seorang pecinta yang pintar dan Mila sudah merasa pasrah dengan apa yang bisa Aldi berikan.

Mila membutuhkan kepuasan, terpuaskan oleh batang yang besar dengan keras dan kasar. Dia putuskan untuk membeli sebuah dildo. Dia belum pernah punya sebelumnya, tapi dalam kondisi seperti ini, dia sudah terbuka dengan segalanya.

Dengan cepat Mila temukan yang dia mau. Keduanya berukuran besar serta panjang. Yang satu berwarna putih dan satunya lagi berwarna hitam. Belum pernah dia tidur dengan pria kulit hitam, tapi dia sudah dengar dengan semua gosip tentang itu.

"Aku rekomendasikan yang hitam," ucap sebuah suara dari belakangnya. Mila sangat terkejut dan hampir saja dia terlonjak. "Maaf, aku nggak bermaksud mengejutkanmu." Mila menoleh dan melihat seorang pria paruh baya. Pria ini adalah penjaga toko yang Mila lihat saat dia masuk ke dalam toko ini tadi. Tubuhnya gemuk dan rambutnya dihiasi sedikit uban serta wajahnya terlihat rusak oleh bekas jerawat.

"Wanita berkulit putih, apalagi bertubuh kecil sepertimu, banyak yang suka itu. Itu fantasi yang populer. Interacial?"

Mila tak bisa percayai kelancangan pria ini. Ingin dia segera terbang keluar dari toko tersebut...

"Dan pria hitam biasanya memang banyak yang punya ukuran sebesar itu," lanjut sang pria, menjunjuk ke arah dildo hitam yang berukuran besar. "Tentu saja, punyaku nggak terlalu jauh juga."

Oh my god, apa pria tua menjijikkan ini sedang berusaha merayuku? Sebelum Mila menjawab, si pria kembali berkata, "Kamu tahu, kami baru saja dikirimi sebuah film baru. Mutunya bagus. Aku bisa memutarnya, kalau kamu ingin lihat."

"Oh, nggak, nggak usah. Aku harus pergi. Aku Cuma beli ini saja." Mila mengambil dompetnya, tapi segera saja dia tersadar dalam kegugupannya tadi, dompetnya tertinggal di dalam mobil. "Oh, sial, dompetku ketinggalan."

"Nggak masalah," dengan cepat si pria menjawab, sebuah seringai terkembang di wajahnya. Tangannya terjulur dan memegangi bahu Mila. "Itu bisa di atur." Mila tercekat mendapati pria tersebut begitu berani menyentuhnya. Apa dia coba menawarku? Sikap diam Mila diartikan si pria sebagai persetujuan untuk menyentuhnya. Tangannya bergerak menelusuri punggung Mila hingga pada pantatnya. Dia meremasnya.

Mila bergerak menjauh. "Jangan menyentuhku."

"Kamu boleh ambil dildonya," lanjut si pria. "Cuma angkat rokmu biar aku bisa lihat apa m*m*kmu botak nggak."

"Gila kamu, aku keluar."

Mila berbalik untuk pergi tapi si pria mencengkeram tangannya. Dia tunjuk dada Mila. "Ayolah, aku tahu kamu mau."

Mila terhenyak saat dia menunduk. Putingnya sudah mengeras dan mencuat ke depan dari balik bra dan blousenya. Tiba-tiba dia tersadar kalau dia telah terangsang. Oh my god, pria menjijikkan ini membuatku terangsang. Sekali lagi, si pria menganggap sikap diam Mila sebagi tanda setuju untuk disentuh. Dia bergerak mendekat dan menekan selangkannya ke paha Mila. Si pria sudah ereksi. "Kamu yang menyebabkan ini." Si pria semakin menekan keras. "Sudah kubilang k*nt*lku besar. Kamu suka yang besar, kan?" Si pria gendut meremas pantat Mila. "Wah, pantatmu sangat kencang." Tangan si pria yang satunya lagi menangkup buah dada Mila. Cuma meremasnya dari luar pakaian Mila tidaklah cukup bagi si pria, lalu dengan lihai dia lepas kancing blous Mila dan melepas kaitan branya dan langsung meremasi buah dada Mila yang telanjang.

Tangan si pria yang menyentuh dada telanjangnya menyentakkan Mila dari alam bawah sadarnya dan langsung dia dorong si pria menjauh. Dia lari keluar dari toko tersebut. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan melaju secepat yang dia bisa. Setelah beberapa mil barulah bisa dia atur nafasnya yang memburu. Dia betulkan kembali pengait branya dan mengancingkan kembali blousnya, kemudian dia pandangi dirinya di kaca spion depan. Aku sudah berubah jadi apa? Apakan di dahiku ada tulisan ‘aku horny’?

Vaginanya berdenyut dan putingnya masih tetap keras. Meskipun merasa malu, dia menyadari bahwa si pria tua gendut tadi telah membuatnya terangsang. Oh god, aku sungguh ingin dipuaskan. Dia lihat sekelilingnya. Tak ada seorangpun. Dia buka kancing jeansnya dan tangannya menyusup masuk ke dalam. Dia pejamkan mata dan berhayal si pria gendut yang jelek tadi menyetubuhinya dengan penis besarnya.

*****

Bagian 7

"Selamat malam, nyonya," sambut si penjaga pintu saat membukakan pintu. Dapat Mila rasakan dia mencuri lihat ke dalam gaunnya saat dia berjalan masuk ke dalam resto. Dia kenakan sebuah gaun seksi untuk Aldi karena mereka tengah merayakan ulang tahun Aldi. Sebuah gaun yang pendek dan sangat pas dengan lekuk tubuhnya, serta bagian depan yang berpotongan rendah, mengekspos bukit buah dadanya yang kecil namun kencang.

Suasananya sangat ramai di dalam, tapi lautan manusia tersebut seakan membelah saat dia datang. Mila merasa semua mata pria tertuju padanya. Dia merasa merona jengah.Perhatian dari lawan jenis selalu bisa membangkitkan gairahnya, tapi denyutan gatal di selangkangannya tidaklah dia harapkan. Dia tak lagi bertemu Bimo semenjak pesta lalu dan terlebih lagi, belum merasakan batang penis berukuran besar lagi semenjak sebelum dia tunangan. Dia telah berhasil untuk setia, tapi juga jadi frustrasi secara seksual. Apalagi sejak kejadian di sex store, hal terakhir yang dia mau adalah stimulasi seksual lebih banyak lagi yang menambah rasa frustrasinya.

Mila bertanya pada pelayan apakah Aldi sudah datang, tapi ternyata belum. Si pelayan menyaranan untuk menunggu saja di bar.

Bar tersebut begitu ramai dan penuh asap rokok, tapi beberapa pria menawarkan tempat duduk pada Mila. Dengan santun Mila menolaknya dan memilih untuk berdiri diantara keramaian. Biarpun begitu banyak orang yang mengantri minuman, sang bartender tiba-tiba saja muncul dan menanyakan minuman yang dia pesan. Sang bartender mencoba untuk mengobrol dengan Mila, tapi Mila menepisnya dengan tersenyum. Mila baru mengambil uang dari dalam dompetnya, tapi seorang pria menahan tangannya dan menyodorkan selembar uang pada sang bartender. Dengan ekspresi kecewa, sang bartender mengambil uang tersebut.

Mila menoleh ke belakang dan merasa kecewa saat dia melihat ternyata itu bukanlah Aldi.

"Please, biarkan aku membelikanmu minuman," ucap si pria dengan logat asing. "Namaku Jacques."

"Terima kasih, Jacques, tapi nggak usah."

"Please, aku memaksa."

"Well... baiklah," akhirnya Mila menyerah. Suasana bar yang begitu ramainya hingga membuat keduanya nyaris saling bersentuhan. Dengan rok pendeknya, Mila semakin merasakan kehadiran sosok si pria. Jacques memiliki bahu yang lebar dan ketampanan yang sangat khas lelaki, dengan sepasang mata yang memiliki sorot tajam dan misterius. Postur tubuhnya tinggi besar dan tubuhnya yang tinggi besar terlihat kekar di balik pakaian mahal yang dia pakai. Mata tajamnya menatapnya dengan siratan hasrat yang begitu gamblang dan denyutan di selangkangan Mila jadi semakin intens. Dimana gerangan Aldi?

"Apa kamu sendiri?"

"Saat ini," dengan ragu Mila menjawab saat dia teguk minumannya. "Aku menunggu tunanganku."

Jacques memegang tangan Mila dengan mantap. "Ah, cincin tunangan yang indah. Bisa kulihat tunanganmu sangat mencintaimu. Tapi sampai dia datang, boleh kan aku menemanimu?"

Mila terpukau oleh karisma Jacques. Khas gentlement pria Perancis dengan logatnya yang eksotis. Mila mengangguk mengiyakan dan dia teguk minumannya kembali. Jacques tidak melepaskan genggamannya. Bahkan di elus tangan Mila. Dengan tersipu, Mila menarik tangannya.

"Kamu belum sebutkan siapa namamu."

"Mila."

"Mila. Panggilan dari Kamila, benar kan? Sebuah nama yang mempunyai arti sempurna, sesempurna orangnya. Sungguh sebuah kehormatan berkenalan dengan wanita secantikmu, Mila."

Kembali Mila tersipu. Dia terkesima dengan sopan santun Jacques dan dia suka mendengar aksennya. "So, apa pekerjaanmu Jacques?"

"Aku baru tiba hari ini. Aku seorang buyer Neiman Marcus. Aku keliling dunia untuk memesan busana wanita yang berkualitas bagus untuk dijual di toko."

"Wow," jawab Mila, benar-benar terkesan. "Aku nggak pernah bayangkan ternyata yang di bagian pembelian busana wanita di Neiman Marcus itu seorang pria."

"Aku merasa punya mata yang bagus untuk sebuah kualitas. Contohnya, gaun yang kamu pakai ini sangat indah dan punya kualitas yang tinggi." Saat mengucapkannya, jemari Jacques menyusuri spaghetti strap di bahu telanjang Mila. Sentuhan Jacques membuat Mila merinding.

"Permisi," Mila mendengar, saat seorang pria mencoba mencari jalan untuk mendekat ke bar. Seakan sedang berdansa, dengan lembut lengan Jacques melingkari tubuh Mila dan menariknya ke dalam pelukannya untuk memberi ruang bagi si pria. Tubuh mereka berhimpitan rapat dan tangan Jacques berada di punggung Mila. Detik berikutnya, dia mengelus punggung Mila dengan lembut. Mata mereka saling bertemu dan Mila tersadar jemari Jacques yang menari dengan mudahnya memberitahunya bahwa dia tidak memakai bra.

Seorang pria lagi mendesak menuju bar dan Mila mendapati dirinya bergerak lebih dekat lagi pada Jacques hingga mereka hampir berpelukan. Tangannya di dada Jacques dan saat dia mendongak, bibir mereka hampir bersentuhan. "Bar ini sangat ramah ya? Menarik orang-orang berkumpul semua di sini," kelakar Jacques.

Mereka tertawa berbarengan, mencairkan ketegangan saat itu. Sulit jadinya mengobrol jika sedekat itu, jadi Mila hanya diam saja serapat itu dengan tubuh Jacques yang tiada henti mengelus punggungnya. Dia anggap elusan Jacques itu masih wajar saja dan dia tak mau bikin keributan karena kelihatannya Jacques seorang pria yang baik. Dia melirik sekelilingnya dan dia lihat banyak mata pria yang sedang memandang ke padanya. Mungkin mereka tengah membatin betapa gampang dirinya terlihat. Pikiran tersebut membuatnya merinding oleh letupan gairah.

Bar itu semakin bertambah ramai dan tiba-tiba Mila merasakan sebuah tangan di belakangnya dan dia tersadar ada seorang pria yang tengah menggerayanginya. Berada di antara himpitan Jacques dan pria di belakangnya membuat Mila tak dapat bergerak menjauh. Pria di belakangnya meremas pantatnya. Mila tak mampu berbuat apapun karena dia tak ingin membuat kegaduhan. Tangan pria itu bergerak ke bawah dan Mila merasakan tangan itu mulai bergerak di balik roknya. Dia mendorong ke arah Jacques, coba untuk melepaskan diri dan dia dapat merasakan sebuah benda keras dan besar menekan perutnya. Dia sadar dalam usahanya melepaskan diri dari pria mesum di belakangnya, dia jadi bergesekan dengan penis Jacques, tapi dia tak punya pilihan lain. Mila sama sekali tak punya pilihan lebih bagus lainnya. Maka begitulah keadaannya, Jacques mengelus punggungnya, seorang pria lainnya merabai pantatnya dan mencoba masuk ke dalam roknya dan dia jadi menggesek ereksi Jacques.

Dan birahi Mila benar-benar bergejolak karena itu semua. Dia merasa begitu nakal. Pria di belakangnya harus menghentikan ‘kerajinan tangannya’ untuk mengambil minuman yang dipesannya, tapi ketika dia berbalik untuk meninggalkan bar itu, mengakibatkan Mila semakin terdorong rapat ke dalam pelukan Jacques dan dia merasakan tangan Jacques bergeser ke sisi tubuhnya, hampir menyentuh buah dadanya. Mila tak bisa bergerak karena ada seorang pria lain lagi yang tiba-tiba mendekat ke bar. Dia harus menahan nafas saat Jemari Jacques bergerak menyentuh tepian buah dadanya. Detik berikutnya Jacques mulai mengelusi tepian buah dadanya. Gaun yang dia pakai begitu ketat dan tipis hingga sentuhan itu sekan langsung menyentuh permukaan kulitnya saja. Saat melakukan itu, tatapan mata Jacques tak sedetikpun lepas dari mata Mila, menantangnya untuk menolak. Untuk suatu sebab, saat itu, terkungkung oleh karisma pesona Jacque yang begitu intens, Mila tak mampu memprotesnya.

Akhirnya kerumunan orangpun mulai berkurang dan Mila bergerak menjauh dari pelukan Jacques. Jantung Mila berdegup kencang. Putingnya terasa keras hingga terlihat jelas mencuat dari balik gaun tipisnya. Dia teguk sisa minumannya dan dengan cepat Jacques memesankannya segelas lagi. Milapun meneguknya kembali dengan cepat dan kemudian dia minta diri. Dia menuju ke kamar kecil dan dia juga tergoda untuk melangkah ke pintu keluar.

*****
Report to moderator     Logged
pureaisha
Newbie
*

Posts: 26
Karma: +3/-0
[applaud] [smite]
pemimpi
View Profile  Email  Personal Message (Offline)

:: Rangsangan Berselingkuh 5-8::
≪ Reply #3 on: ≫
Quote
Di dalam kamar kecil, dia bersandar ke dinding dan menarik nafas panjang. Apa yang kulakukan? Apa aku begitu gampangan? Aku sudah tunangan. Ayolah, kuatkan hatimu! Tapi, dia sudah sangat terangsang. Putingnya terasa sangat sensitif dan selangkangannya sudah basah kuyup.

Dia sudah memutuskan tak akan lari menghindar, dia tak mungkin lari setiap kali ada pria yang coba mengodanya. Dia hanya perlu kendalikan dirinya dan mengatasi situasi tersebut. Lagipula, Aldi akan tiba sebentar lagi. Dia rapikan gaunnya, dengan tangan yang masih sedikit gemetaran, dia ambil lipstiknya.

Jacques masih menunggu di tempatnya berada tadi dan bahkan dia sudah menyediakan sebuah kursi untuknya. Di atas meja bar, sudah menanti segelas minuman baru untuknya.

Mila berkata kalau dia ingin berdiri saja, tapi Jacques mendesaknya. Akhirnya Mila menerima karena sepatunya sudah terasa agak menyakitkan, tapi dia khawatir bagaimana nanti posisi duduknya di atas bar stool tinggi itu. Dia turunkan ujung gaunnya, tapi kembali tersingkap setiap kali dia silangkan kaki. Jacque dengan terang-terangan menatap hal itu. Kemudian Jacques perhatikan pangkal stocking yang dipakai Mila, yang mengintip dari balik ujung roknya yang tersingkap. Jacque membungkuk ke depan dan dia letakkan tangannya di paha Mila saat mereka berbincang.

Di tengah obrolan mereka, Jacques gerakkan tangannya naik sedikit demi sedikit hingga berhenti di ujung rok Mila. Jemarinya mulai bergerak pelan di pangkal stocking itu. Mila menatap tangan Jacques di atas pahanya, lalu kembali menatap Jacques. Dia tak tahu kenapa dia tak menghentikannya. "Apa kamu bertugas untuk memesan lingerie juga?" akhirnya dia bertanya, sedikit ekspresi marah di wajahnya.

Jacques tersenyum. "Aku ahli di semua busana berkualitas bagus, termasuk lingerie. Aku akan senang melihat apa lagi yang kamu pakai sekarang."

Mila kaget dengan kegamblangannya. Jacques mengingatkannya pada Bimo. Keduanya sangat berani dan blak-blakan. Mereka berbeda juga. Bimo sifatnya kasar dan arogan, Jacques lembut dan ramah. Tapi ujungnya, mereka serupa. Mereka mengambil apa yang mereka mau. Mereka tak meminta. Mereka mengambilnya begitu saja.

Mila membayangkan bagaimana rasanya tidur dengan Jacques. Apakah sikap halusnya itu akan membuatnya berbeda dengan Bimo? Dia membayangkan bagaimana jika, mendengar Jacques menyebutnya binal dan jalang dengan aksen Perancisnya yang romantis. Bayangan tabu tersebut membuatnya merinding.

"Kamu kedinginan?" tanya Jacques, tangannya menyentuh bahu Mila.

"Tidak," jawab Mila cepat, dia merasa malu. "Cuma memikirkan sesuatu saja."

"Baguslah," jawab Jacques sembari mengelus bahu telanjang Mila. "Kalau kamu kedinginan, aku akan merasa terhormat menawarkan jasku, tapi akan membuatku kecewa kalau kamu menutupi bahumu yang indah."

Mila tersipu. "Ingat, aku sudah bilang dan tunanganku aku tiba sebentar lagi." Untuk menguatkan ucapannya, dia angkat tangan kirinya, menunjukkan cincin tunagannya pada Jacques.

Jacques mendekat pada Mila, pura-pura mengamati cincin tersebut. Mila merasakan ereksi Jacques menekan ke pahanya.

Puluhan kupu-kupu serasa terbang menggelitik dalam perutnya. Dia semakin kuyup. Dia berusaha meraih gelas minumannya dan langsung dia teguk lagi, hanya itu yang mampu dia lakukan untuk untuk menenangkan diri, menutupi gemetar tubuhnya. "Kamu benar-benar percaya diri, ya?"

"Aku cuma mengamati cincinmu." Jacques kembali memegangi tangan Mila, berlagak lugu. "Seperti yang kubilang, ini sangat indah." Kemudian dengan lembut namun mantap, dia bimbing tangan Mila ke pahanya sendiri dan kemudian Jacques menata posisi duduknya hingga ereksi penisnya bersentuhan dengan tangan Mila. "Ukurannya besar," ucapnya dengan tersenyum.

Mila tersipu saat tangannya menyentuh selangkangan Jacques. Terasa besar dan begitu keras. Jantungnya berdegup liar dan nafasnya terasa berat. "Kamu nakal," ucapnya, memalingkan muka untuk menghindari tatapan tajan mata Jacques.

Jacques mengangkat kedua tangannya berlagak menyerah. "My dear Mila, ucapanmu membuatku sedih. Biarkan aku meluruskan, aku sedang membicarakan tentang berlianmu."

Mila tertawa, dengan cepat dia tarik tangannya dari selangkangan Jacques. Tubuhnya sedikit rileks. Jacques mengambil kesempatan itu dan kembali meletakkan tangannya di lutut Mila, dengan sigap bergerak ke dalam roknya. Nafas Mila tercekat saat dia merasakan tangan Jacques bergerak semakin  naik. Dia menggigil saat jemari Jacques menyentuh permukaan kulitnya di atas stocking. Jemarinya sangat dekat pada vaginanya dan tak dia sangsikan, Jacques bisa merasakan kehangatan yang basah memancar dari pangkal pahanya. Puting buah dadanya semakin mencuat jelas dari balik gaunnya. Dia tak punya daya untuk menepiskan tangan Jacques.

Oh my God, apa yang kulakukan? Batin Mila, merasakan jemari Jacques semakin bergerak naik di balik roknya. Dia rapatkan kedua pahanya untuk hentikan perbuatannya. Jacques tersenyum dan membungkuk ke depan, berbisik di telinga Mila, "Ikutlah denganku, kantorku di dekat sini." Undangannya yang terus terang ditambah nafas hangatnya yang menghembus telinganya mengirimkan rasa dingin hingga ke sumsum tulang Mila.

Tolak ajakannya, dia perintahkan pada dirinya sendiri. Tampar mukanya dan jawab tidak. Tapi sebaliknya, dia dapati dirinya menjawab dengan lemah, "Tunanganku akan datang sebentar lagi."

Seakan diberi isyarat, handphonenya berdering. Akhirnya Aldi menelpon. Handphonenya ada di dalam dompetnya dan dompetnya ada di bawah. Dia membungkuk untuk mengambilnya dan saat melakukan itu dia harus meluruskan kakinya. Mila hampir saja menjerit saat tangan Jacques bergerak semakin naik dalam roknya. Posisi mereka sangat berdekatan di tengah keramaian bar tersebut hingga mustahil ada seseorang yang menyaksikan apa yang sedang dilakukan Jacques. Mila langsung membuka handphonenya dan berkata, "Hi, Aldi?" Jemari Jacques berhasil menyentuh vagina telanjangnya. Dia tak memakai celana dalam sebab gaunnya tersebut sangat ketat dan karena sekarang adalah ulang tahun Aldi dan Mila tahu betul kalau Aldi akan sangat terangsang jika tahu dia tak memakai celana dalam.

Dia lihat Jacques tersenyum. Dia rasakan jemari Jacques menjelajahi sepanjang bibir vagina tak berambutnya. Dia coba merapatkan kedua pahanya, tapi Jacques tak bergeming. Dia tak mau membuat Aldi curiga di seberang telpon, jadi dia biarkan saja seorang pria lain memainkan jemarinya di selangkangannya saat dia sedang bicara dengan tunangannya di telpon.

"Aku di bar," ucapnya, saat dia rasakan jemari Jacques meluncur di antara bibir vaginanya.

"Maksudku, uhhh" ... Mila gigit bibirnya untuk meredam suara desahannya saat Jacques mendorongkan satu jarinya masuk ... "Maksudku, aku ada di bar di dalam resto."

"Nggak, aku baik-baik saja, aku ahhh god" ... Mila mengerang tak tertahankan ketika Jacques menemukan kelentitnya ... "Kamu di, uhhh, kamu" ...Mila cengkeram lengan Jacques, coba menghentikannya... "Kamu di mana?"

Jacques tersenyum nakal melihat kondisi dan ketidak nyamanan Mila. Dia tusukkan jari lainnya ke dalam dan kemudian dia mulai mengocok sembari ibu jarinya menggelitik kelentit Mila. "Ahhh... maksudku... uhhh... itu" ...Mila kesulitan berkata saat Jacques terus mengocoknya... "Itu sayang sekali."

"Apa... ahhh... apa?" tanya Mila, sulit rasanya konsentrasi di bawah serangan. Dia pejamkan matanya raat, mencoba mengacuhkan apa yang dilakukan Jacques terhadapanya, tapi tak berhasil. "Hotel... ahhh... apa? Hotel XXX?" ucapnya di sela sengal nafasnya. "Kamar... uhhh... 403?"

Dia dorong lengan Jacques sekuatnya tapi tetap saja dia tak mau berhenti. God, dia akan membuatku orgasme! Mila sadar kalau dia harus segera tutup handphonenya. "Ok, aku akan ke sana, bye," semburnya dan langsung dia tutup handphonenya. Tak mungkin dia biarkan seorang pria asing membuatnya orgasme di tengah bar yang ramai. Dia rapatkan pahanya semampunya dan kembali dia dorong Jacques. "Please stop," rengeknya. "Please."

Jacques mengalah dan dia tarik tangannya. Dia usap jari basahnya dengan selembar serbet. Dada Mila berdebar keras. Dia butuh beberapa menit untuk mengatur nafasnya.

"Itu sangat jahat," akhirnya dia bisa berucap.

Jacques tersenyum, tapi tak menjawabnya. Sebaliknya, dia bertanya, "Aku artikan tunaganmu tak bisa datang kemari?"

Mila gelengkan kepala. "Sesuatu terjadi di kantor. Dia harus terbang ke luar kota."

Senyuman Jacques semakin melebar. "Jadi, dia tak akan pulang sampai besok."

Mila tak menjawab. Jantungnya berdegup kencang di dalam dadanya. Jacques hampir membuatnya orgasme. Dia tadi sudah begitu dekat saat dia paksa Jacques berhenti. Tubuhnya tebakar hebat oleh birahi.

"Apa maksud tunanganmu, soal hotel XXX?"

Mila merasa berat melanjutkan obrolan tersebut. "Hari ini ulang tahunnya," akhirnya dia bisa berkata.

Wajah Jacques berbinar mengerti. "Ah. I see. Dan tunaganmu sudah booking kamar di hotel XXX, lalu setelah dinner, kamu bisa membantunya merayakan ulang tahunnya? Kamar 403?"

Mila mengangguk, menghindari tatapan Jacques. Dia tahu ke mana arahnya ini dan dia takut dengan apa yang mungkin dia lakukan. "lari!" dia perintahkan dirinya. "Kamu nggak boleh lakukan ini! Ini ulang tahun Aldi, kamu nggak boleh lakukan!"

"Dan dia mengabarkan ini padamu, untuk apa? Untuk membatalkan bookingannya?"

Mila ragu, tapi akhirnya dia gelengkan kepalanya. "Sudah terlambat dibatalkan. Dia memintaku untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan di kamar itu."

Jacques menyeringai. Tangannya kembali memegang lutut Mila. "Sangat sayang kalau menyia-nyiakan bookingan kamar di hotel XXX."

Mila tutupi tangan Jacques dengan tangannya, coba hentikan serangan Jacques. "Please," dia memohon dengan sisakekuatannya. Dia tak punya daya untuk mencegah ini terjadi, tapi mungkin saja Jacques akan melakukan hal yang benar. "Aku sudah tunangan. Kami akan menikah bulan depan."

"Mila, aku tak pernah punya maksud memaksamu, ataupun melakukan sesuatu yang tak kamu mau," ucapnya dengan lembut, menenangkan. Dia tawarkan tangannya. "Aku hanya menawarkan untuk menemanimu ke kamar hotel itu. Aku akan benci kalau kamu ditemani pria lain manapun di bar ini, siapapun saja yang sudah menatapmu dengan lapar."

Mila tak mampu bergerak. Tentu saja dia tak percaya Jacques, tapi dia sungguh bingung. Tubuhnya terbakar hebat. Dia sungguh membutuhkannya. Beberapa saat berlalu. Akhirnya Mila dapati dirinya turun dari atas bar stool. Tapi ini serasa di luar kesadarannya. Rasanya bukan dirinya yang turun dari bar stool, itu orang lain, seseorang lain yang mirip dirinya. Bagaikan roh yang melayang di antara kerumunan orang, dia lihat dirinya memegangi lengan Jacques. Dia saksikan dirinya dibimbing keluar oleh Jacques dari bar tersebut, dengan canggung menoleh ke sekitarnya dan berharap tak dia lihat seseorang yang dia kenal.

Tapi luput dari pandangannya di ruangan tersebut, tak pernah dia lihat tunangannya, Aldi bersembunyi di tengah kerumunan orang, menyaksikan semua gerakannya.

*****

Bagian 8

Jacques menutup pintu kamar 403 dan langsung merengkuh Mila ke dalam pelukannya. Mila merasa bersalah memikirkan tunangannya Aldi. Ini adalah hari ulang tahunnya, tapi bukannya merayakan bersamanya, dia malah akan menyerahkan dirinya pada pria lain. Tapi semua pikiran tersebut segera musnah kala Jacques melumat bibirnya, dengan penuh gairah menjelajah mulutnya dengan lidahnya.

Mila sudah memututuskan untuk tidur dengan Jacques ketika dia meninggalkan bar bersamanya. Meskipun sebelum pergi ke bar, gejolak birahi Mila sudah memuncak karena rasa frustrasi seksualnya, Jacques yang mencumbunya dengan jemari hingga hampir membuatnya orgasme di bar tadi, semakin menyirami kobaran apinya dengan bensin saja. Perasaan bersalahnya akan dia pikir lagi nanti. Sekarang, dia butuh Jacques untuk memadamkan kobaran api dalam tubuhnya.

Jacques menggapai ke belakang tubuh Mila untuk menurunkan resleiting gaunnya. Mila hampir melompat mundur secara refleks saat Jacques menurunkan spaghetti straps dari bahunya, tapi kemudian dia membiarkan gaunnya jatuh begitu saja ke atas lantai. Dia merasa jengah saat Jacques melangkah mundur dan dengan ekspresi lapar memandangi lekuk tubuhnya. "My god Mila, you're perfect," ucapnya kagum. Lalu kembali Jacques memeluknya, sepasang bibir menempel rapat, tangan Jacques menangkup buah dadanya yang kecil namun kencang sempurna. Mila merasakan gundukan besar di celana Jacques menekan keras perutnya.
Jacques mendorong Mila ke atas ranjang dengan lembut. Dengan cepat dia lucuti pakaiannya sendiri, sebuah senyum penuh keyakinan diri terkembang di wajahnya. Dia miliki tubuh yang tegap dan kekar. Jantung Mila semakin berdetak kencang saat Jacques mulai menurunkan celana dalamnya. Celana dalam itu sudah terlihat menggembung besar, tapi tetap saja membuat Mila jadi menahan nafasnya saat Jacques mulai menurunkan celana dalamnya hingga paha. Mila nyaris terpekik saat dia melihat batang penisnya. Batang penis tergemuk yang pernah dia lihat. Mungkin tak sepanjang milik Bimo, tapi tetap lumayan panjang dan begitu besar. Dan Jacques tidak disunat, sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Mila merinding penuh gairah menyaksikannya dan kemudian dia jadi tersipu saat tahu Jacques memperhatikannya dengan tersenyum.

Jacques menyusul Mila ke atas ranjang dan tehnik yang dia miliki sungguh mengagumkan. Dia habiskan seluruh waktunya menjelajahi seluruh area rangsangan yang ada di sekujur tubuh Mila. Bibir Jacques begitu lembut dan dia begitu ahli dalam berciuman. Jacques membuatnya jadi liar saat lidahnya mencumbu telinga dan celah pantatnya. Tubuhnya telah terbakar hebat kala akhirnya Jacques bermuara di vaginanya. Mila selalu menjaga bibir vagina hingga lubang anusnya bersih tak berambut, hanya menyisakan rambut tipis yang tercukur rapi di atas vaginanya. Jacques menjilati kulit lembut tanpa rambut yang super sensitif di antara lubang anus dan vagina Mila, yang membuat jiwa Mila seakan keluar dari raganya.

Saat akhirnya lidah Jacques menyentuh bibir vaginanya, Mila merasa dia akan pingsan saja. Jacques menjilatinya naik dan turun, berulang-ulang, setiap kali lidahnya hanya sedikit menggoda kelentit Mila. Jacques menggodanya begitu yang terasa tanpa ujung. Hingga Mila melepaskan jerit erangan birahi penuh kepuasan saat akhirnya Jacques bergerak naik menindih tubuhnya.

Batang penisnya yang begitu gemuk, walaupun  Mila telah begitu basahnya melebihi yang pernah dia alami, tetap saja membutuhkan beberapa menit nan panjang bagi Jacques untuk bisa membenamkan batang penisnya seutuhnya. Tapi selanjutnya, Jacques berubah layaknya binatang liar. Dia sodokkan batang besarnya, membuat tubuh mungil Mila seakan tenggelam ke dalam ranjang. Orgasme pertama Mila datang dengan cepatnya dan itu terasa tanpa jeda. Dalam beberapa menit lamanya, ombak kenikmatan orgasme menyapu sekujur tubuhnya.

Jacques mempunyai stamina yang menakjubkan. Namun pada akhirnya, Mila dapat merasakan Jacques sudah berada di ambang batasnya juga. Tubuh kekarnya berubah mengejang dan batang penisnya terasa semakin bertambah besar dan keras saja. Dengan sisa kendali dirinya yang tersisa, Mila berkata, "Jacques... ini bukan waktu yang aman buatku... keluarkan di luar, okay?"

Jacques sudah terlalu jauh tersesat dalam kungkungan birahi untuk meresponnya. Dia terus mengocok dengan keras dan cepat, semakin bertambah dekat di ambang batas pelepasannya dan menyemburkan sperma sehatnya di rahim subur Mila.

Mila tak bisa membiarkannya. Sekarang adalah periode paling suburnya. "Keluarkan di mulutku, Jacques," desaknya. "Aku ingin merasakanmu. Aku ingin menelan semua milikmu."

Jacques tetap tak menjawab. Dia terlihat seperti kerasukan, kedua matanya terpejam begitu rapat. Mila merasakan tubuh Jacques mengejang, dia sadar kalau Jacques akan keluar sebentar lagi. "Keluarkan di wajahku, Jacques!" desaknya panik, berusaha sebisanya agar Jacques mencabutnya. "I want you to fuck my face, keluarkan di wajahku, aku ingin, please, cabut dan keluarkan di wajah dan rambutku, please!"

Tapi itu tak berhasil. Dengan geraman keras, tubuh kekar Jacques mengejang dan dia mulai ejakulasi. "TIDAK JACQUES JANGAN!" Mila berteriak saat dia rasakan semburan pertama dari sperma Jacques menembaknya. "JANGAN JACQUES CABUT! CABUT!" dia teriak dengan panik.

Teriakan Mila memecahkan kerasukan birahi Jacques. Dia terlihat kaget dan tersadar, dia cabut keluar, tapi semua sudah terlambat.

"Oh tidak, oh tidak," ratap Mila, menyadari Jacques telah terlanjur menumpahkan sperma yang subur dalam rahimnya sebelum dia mencabutnya. Seakan menguatkan hal itu, sperma Jacque meleleh keluar dari pangkal pahanya saat Mila bergegas menuju kamar mandi. Dengan cepat dia langsung mandi dan berusaha sebisanya untuk membersihkan sperma Jacques dari dalam vaginanya. Tapi tetap saja dia tak bisa membersihkan semuanya, Jacques menyemburkan spermanya begitu banyaknya.

*****
Report to moderator     Logged
pureaisha
Newbie
*

Posts: 26
Karma: +3/-0
[applaud] [smite]
pemimpi
View Profile  Email  Personal Message (Offline)

:: Rangsangan Berselingkuh 5-8::
≪ Reply #5 on: ≫
Quote
Keesokan sorenya, Mila menunggu Aldi pulang dari perjalanan bisnisnya dengan cemas. Dia kenakan bustier hadiah Valentine (yang telah dia bersihkan setelah kejadian dengan Bimo waktu lalu), stockings dan stiletto heels. Setelah apa yang terjadi dengan Jacques malam sebelumnya, dia butuh agar tunangannya bercinta dengannya serta membuatnya keluar di dalam.

Mila langsung menyeret Aldi ke kamar begitu dia pulang. "Ada acara apa nih?" tanya Aldi saat dia elus bahan sutera dari bustiernya, dia remas buah dada tunangannya yang mempesona.

"Aku sangat merindukanmu," bisik Mila di telinganya saat dia bimbing Aldi memasuki tubuhnya.

"Kondomnya gimana?" tanya Aldi.

"Nggak usah pedulikan itu," Mila meyakinkannya.

"Tapi sekarang masa suburmu."

"Nggak apa-apa, kita akan segera menikah sebentar lagi."

Aldi sudah sangat ereksi, tapi Mila khawatir dia akan langsung melemas seperti yang terjadi belakangan ini. Dia gesekkan pahanya di paha Aldi, dia tahu kalau tunangannya suka sensasi dari bahan sutera dari stockingnya. Lalu dia tekan ujung stiletto heels yang dia pakai pada bagian belakang paha Aldi hingga membekas, karena dia tahu betul kalau tunangannya ini suka hal itu. Saat Aldi mulai hampir ejakulasi, dia kaitkan kedua lengan dan pahanya melingkari tubuh Aldi, memastikan Aldi akan berejakulasi di dalam tubuhnya.

Aldi mencabut penisnya lalu pergi ke kamar mandi. Setelah pintunya ditutup, Mila menggapai ke bawah dan meraba bibir vaginanya. Seperti yang dia takutkan, Aldi tak begitu banyak keluarkan sperma, seperti biasanya.

*****
Report to moderator     Logged
pureaisha
Newbie
*

Posts: 26
Karma: +3/-0
[applaud] [smite]
pemimpi
View Profile  Email  Personal Message (Offline)

:: Rangsangan Berselingkuh 5-8::
≪ Reply #6 on: ≫
Quote
Dua minggu kemudian, Mila pulang dari toko obat. Dengan gugup menjinjing sebuah tas kecil dari kertas, dia menuju kamar mandi. Dengan penuh rasa takut, dia lakukan test dua kali, tapi dia sudah tahu apa hasilnya.

Dia keluar dari kamar mandi dan menjumpai Aldi yang sedang duduk di kursi dapur, membaca koran. Dia membungkuk, mengalungkan lengannya ke leher Aldi.

"Honey?" tanyanya ragu.

Aldi memandang dari balik koran, ke wajah tunangannya yang cantik. Mila terlihat mau menangis. "Ada apa, Mil?"

Mila tunjukkan alat test kehamilanya. "Aku hamil," ucapnya, air mata menetes di pipinya.

Wajah Aldi berubah girang dan alangsung dia peluk tubuh tunangannya. "Oh honey, ini kabar yang hebat! Jangan menangis, kita akan menikah bulan depan, nggak ada seorangpun yang akan tahu. Aku pria paling beruntung di muka bumi. Aku akan menikah dengan wanita terhebat, tercantik di muka bumi dan kita akan punya bayi."

Mila paksakan sebuah senyuman dan balas memeluk Aldi. Dia sangat mencintai Aldi. "Kumohon Tuhan," dia berdo’a dalam hati. "Jadikan ini bayinya." Tapi dia teringat betapa banyak Jacques tumpahkan sperma dalam rahimnya, jauh lebih banyak dibandingkan milik Aldi. Dia teringat betapa dalamJacques memasuki tubuhnya, jauh lebih dalam dibanding batang penis Aldi yang kecil mampu menjangkau. Dan Aldi bercinta dengannya sehari setelahnya.

*****

Tidak ada komentar: