Kontak Info

Untuk info dan pemesanan silakan kontak gw di

Email : Hentai232@gmail.com
Email / YM : Hentaigame@ymail.com
Line ID : Hentai232
Pin Blackberry : 32628C2B


Silakan diadd / email bro, gw ol trus dari jam 8.00 pagi
s/d jam 10.00 malam

( langsung gw balas, g pake lama / tunggu )


Kamis, 28 November 2013

Rangsangan Berselingkuh 9-12

Attention: Semua cerita postinganku adalah hasil dari translate / terjemahan. Sekedar berbagi tanpa ada maksud lain...
Judul asli: Aroused by Cheating byxlegloverc

Bagian 9

"Ada apa nih?" tanya Bimo, sambil duduk. "Sudah lama sekali kamu nggak mengajakku makan siang. Akhirnya kamu memaafkanku soal yang di kereta? Kamu tahu kan, aku hanya..."

"Aku hamil," potong Mila.

Ucapan Mila sangat mengejutkan Bimo. "Wow," ucapnya, ekspresi wajahnya menggambarkan apa yang dia rasa. Lalu dia paksakan untuk tersenyum. "Well, itu bagus. Lebih cepat dari harapanku, tapi what the hell. Congrats, untuk kalian berdua, kamu dan Aldi."

Mila menunduk. Bimo melihat kegelisahan di wajah Mila dan dia segera faham. "Tunggu sebentar," ucapnya pelan. "Ayahnya bukan Aldi?"

Mila mengangkat kepala, menatap Bimo dan kemudian mengangguk.



Mata Bimo terbelalak lebar. Lalu terbersit sesuatu di kepalanya yang membuatnya gembira. "Bayiku?"

Mila terlihat kaget, tapi kemudian dia sadar itu pertanyaan yang wajar. Hal itu membuatnya semakin merasa begitu murahan. Kembali dia gelengkan kepala. "Bukan," dia menjawab dengan suara begitu lirih, seakan tak ingin orang-orang di sekitar mereka mendengarnya. "Aku ketemu dengan seseorang di bar. Ini hanya one night stand saja."

Bimo berusaha sembunyikan kekecewaannya. Dia akan senang sekali menaklukkan Mila. Dia mengangkat bahunya, coba sembunyikan rasa kecewa dan sakitnya. "Lalu, kenapa kamu ceritakan padaku? Kenapa nggak kamu ceritakan saja pada si tuan One-Night-Stand?"

Sekarang giliran Mila yang terkejut. "Kenapa kamu nggak berhenti bersikap menjengkelkan dan jadi temanku? Aku sedang dalam masalah. Aku butuh bantuan."

Bimo diam, coba mengontrol amarahnya. Mila tak pernah membalas telponnya sejak pesta pertunangannya. Sekarang dia sudah dihamili oleh pria yang benar-benar tak dikenal. Kalau Mila ingin sex, kenapa tak menghubunginya saja? Dia sungguh marah pada Mila dan dia ingin Mila tahu itu. Tapi ini bukan waktunya, tidak jika dia masih ingin mendapatkan kenikmatan dari tubuh Mila lagi.

"Oke, oke," jawabnya dengan suara yang lebih lembut, memaksa dirinya untuk terdengar wajar. "Aku minta maaf. Apa Aldi tahu?"

"Ya. Dia pikir ini bayinya."

"Kamu yakin bukan dia ayahnya?"

Mila kembali menunduk. "Ya, sangat yakin," jawabnya. Dia tatap Bimo. "Apa yang harus kulakukan? Kamu tahu pandanganku tentang aborsi."

Bimo mengamati Mila. Matanya merah, rambutnya kusut. Dia tak memakai makeup sama sekali dan hanya mengenakan celana jeans biasa, kaos putih dan sepatu kets. Diluar itu semua, Mila tetap terlihat menggairahkan. Meskipun jeans yang paling sederhana sekalipun tak akan bisa menyembunyikan pantatnya yang indah, sepasang paha jenjangnya serta bahan kaos putihnya lumayan tipis untuk memperlihatkan bra berenda yang dia pakai. Melihat itu, Bimo teringat betapa sempurnanya bentuk buah dada Mila. Meskipun sekarang dia tahu Mila hamil, itu sama sekali tak mengganggunya. Bahkan itu semakin membuat birahinya tergelitik. Bimo merasa penisnya mengeras. Bayangan bersetubuh dengan Mila yang hamil, perutnya yang besar dengan jabang bayi di dalamnya, buah dadanya yang membesar, sangat menggugah birahinya.

"Menurutku kamu jalani saja dan lahirkan bayinya," kata Bimo. "Biarkan Aldi menganggap itu bayinya."

"Sungguh?" tanya Mila, wajahnya berangsur cerah. "Apa nggak masalah kalau nggak memberitahu dia yang sebenarnya?"

"Dia bahagia kan? Memberi tahunya hanya akan membuat kacau, karena apapun yang terjadi berikutnya, dia nggak akan senang dan juga kamu. Dengar, ini sering terjadi. Ini nggak perlu merusak kehidupanmu. Aldi pikir ini bayinya. Biarkan dia terus menganggap begitu. Dengan begitu, nggak ada seorangpun yang tersakiti."

Mila merasa lega. Dia merasa seakan beban yang maha berat telah terangkat dari bahunya. "Ok, baiklah, kurasa aku akan melakukannya. Kamu benar, mengatakannya pada Aldi hanya akan menyakitnya."

Mila meremas tangan Bimo. "Thanks, Bimo. Kamu benar-benar sahabatku hari ini. Aku nggak akan melupakannya."

Bimo tersenyum dan dia dapatkan sebuah kecupan di pipi dari sahabatnya yang cantik. Dia ucapkan selamat pada dirinya sendiri dalam hati. Dia telah mainkan hal ini dengan sempurna. Tak akan butuh waktu lama lagi dia akan bisa membenamkan batang penisnya ke dalam vagina nikmat milik Mila lagi.

*****

Pada waktu yang sama, saat Bimo memikirkan cara untuk mengajak Mila naik ke ranjangnya kembali, Aldi sedang berada di kantornya, menyaksikan sebuah video di komputernya. Dia punya dua video Mila sekarang. Yang pertama diambil oleh detektif bayarannya beberapa bulan lalu, video yang berisi adegan Mila dengan Bimo.

Yang kedua, kualitas gambarnya kalah bagus, tapi lebih menarik. Tak diragukan karena dia sendiri yang mengambil gambarnya, hanya beberapa minggu lalu, saat dia bersembunyi di dalam almari di kamar nomer 403 Hotel XXX ketika tunangannya membiarkan seorang pria lain menikmati keindahan tubuhnya. Dia harus bergegas untuk mendahului Mila dan pria tersebut sampai di kamar hotel itu terlebih dahulu. Kualitas video dari handphonenya kurang begitu bagus, tapi dari dalam almari tersebut memberinya sudut pandang yang sempurna ke arah ranjang. Meskipun hanya dari sebuah celah kecil di balik pintu, dia bisa merekam dan mendengar semuanya.

Dia tak bisa menerima Mila bersama pria lain. Dia hampir gila oleh rasa cemburu. Mila bilang cinta padanya, bersedia menikah dengannya. Bagaimana bisa dia menghianatinya? Bagaimana dia bisa membiarkan seorang pria yang tak dikenalnya, merayunya dan bahkan menikmati tubuhnya tepat di hari ulang tahunnya?

Tapi salah satu bagian dirinya begitu mabuk kepayang menyaksikan Mila menyetubuhi pria lain. Dia tak tahu kenapa, dia tak bisa menjelaskan gairah aneh tersebut. Bahkan dia sering saat bekerja, mengunci pintu kantornya dan beronani sambil melihat berulang kali kedua video tersebut di komputernya.

Dia sudah tahu bayi yang dikandung Mila bukanlah miliknya. Dia merasa dihianati. Bahkan yang lebih parah, Mila berusaha menghilangkan jejak dengan mengajaknya bercinta pada malam berikutnya dan membuatnya ejakulasi di dalam. Tak pernah Mila mengijinkannya keluar di dalam, dia selalu memaksanya memakai kondom atau kalau tidak, berejakulasi di luar. Tapi, dia biarkan seorang pria tak dikenal merayu, menyetubuhi dan menyemburkan spermanya di dalam, di periode masa suburnya. Aldi merasa sangat dihianati oleh Mila.

Tapi memikirkan Mila dengan pria tersebut malah membuat batang penis Aldi mengeras lagi. Di saat itu, saat dia birahi, perasaan dihianati serta cemburu semakin menyulut nafsu birahinya, bagaikan bensin yang disiramkan pada kobaran api. Setelah memastikan pintu kantornya terkunci, dia mulai nyalakan video tersebut di komputernya dan dia keluarkan batang penisnya dari dalam celana.

*****

Bagian 10

Satu bulan kemudian...

Mila menutup pintu lalu berjalan masuk ke dalam kamar tidurnya. Dia menginap di rumah orang tuanya malam ini dan mereka baru saja pulang dari persiapan acara makan malam. Aldi menginap di hotel. Dia tak boleh menemui calon pengantinnya lagi hingga besoknya, saat hari pernikahan mereka.

Mila memandang dirinya di cermin. Kehamilannya belum nampak, thank goodness. Dia ingin terlihat cantik untuk Aldi besok dalam gaun pengantinnya.

Dia merasa begitu horny. Hormon tubuhnya jadi menggila. Dia belum merasakan morning sickness. Tapi hormonnya membuat dia lebih horny dari biasanya. Dia pernah membaca kalau itu sering terjadi. Kehidupan seksnya dengan Aldi tidak berangsur membaik, tapi rasa cintanya pada Aldi jauh lebih besar dari yang pernah dia rasakan terhadap semua pria sebelumnya. Namun dia jadi serasa gila oleh tuntutan seksual yang dirasakannya, tapi dia selalu yakinkan dirinya sendiri bahwa itu semua akan mereda setelah hormon tubuhnya kembali normal.

Memandang dirinya di cermin, seakan memandang seseorang di dalam TV, dia lepas kancing blousnya dan membiarkannya jatuh, lalu tangannya bergerak ke dadanya. Jemarinya menyusuri bra yang dia pakai, mengikuti pola rendanya. Lalu dia gerakkan jarinya melingkar di atas putingnya. Putingnya bereaksi dan mulai mengeras di dalam branya.

Dia singkapkan roknya dan tangannya yang satu lagi menyusup ke balik celana dalamnya. Satu tangan mengelusi dadanya, satunya lagi menjelajah di balik celana dalamnya. Dia terus pandangi dirinya di dalam cermin, berhayal tangan Aldilah yang sedang menyentuhnya. Tapi itu tak berhasil. Meskipun merasa sedikit bersalah, dia berhayal seorang pria tak dikenal tengah menyentuhnya, seorang pria dengan tubuh kekar dan memiliki batang penis yang besar. Lalu hayalannya berganti, pria itu adalah Bimo. Bukankah tidak dosa jika hanya berhayal, kan? Itu tidak selingkuh. Dia pejamkan mata kala berhayal sedang disetubuhi Bimo, batang penisnya yang panjang menusuknya demikian dalam, tangannya yang kekar menggerayangi sekujur tubuhnya.

Suara jendela kamar yang berderik, mengagetkannya. Dia buka matanya dan menoleh ke arah jendela.

Itu adalah Bimo.

Mila langsung melompat dan memakai jubah mandinya. Dia buka jendela kamarnya.

"Kamu terlihat cantik." puji Bimo, dia tarik sedikit jubah mandi Mila ke samping dan mengintip bra yang dipakai Mila.

Mila rapatkan kembali jubah mandinya dan dan melotot galak pada Bimo. "Mau apa kemari?"

Bimo angkat ujung jubah mandi Mila, lumayang tinggi hingga memperlihatkan pangkal stockingnya.

Bimo melirik paha jenjang dan kencang milik Mila. "Aku kangen kamu. Kamu begitu menggoda. Aku harus setubuhi kamu untuk yang terakhir, sebelum kamu menikah."

Mila terperanjat dengan keterus-terangan Bimo. Mila kira Bimo mengerti kalau hubungan khusus mereka sudah berakhir. Dia turunkan ujung jubah mandinya.

"Kamu sedang membayangkanku, kan?" tanya Bimo, dia buka kembali jubah mandi Mila.

Mila tersipu malu. Bimo tersenyum penuh kemenangan, menyaksikan jawabannya di wajah Mila. Dia ulurkan tangannya dan menangkup buah dada Mila.

Mila rasakan remasan jari Bimo pada putingnya. Dia paksakan diri untuk bergerak mundur, menjauh dari jangkauan Bimo dan kembali dia rapatkan jubah mandinya. "Kamu harus pergi. Keluargaku ada di bawah dan aku akan menikah besok."

"Oh, jadi kalau kita sendirian, kamu mau?"

"Bukan itu maksudku."

"Kurasa iya." Bimo membungkuk dan menciumya. Mila mendorongnya mundur, tapi Bimo memaksa. "Kamu sama menginginkannya sepertiku," ucapnya saat dia cium Mila lagi. "Aku bisa rasakan, kamu sudah horny nggak karuan." Bimo tarik jubah mandi Mila melewati bahunya dan menjatuhkannya ke atas lantai.

"Satu kali lagi, Mila. Satu kali lagi demi masa lalu. Bayangkan bagaimana nikmat rasanya."

Mila rasakan lidah Bimo menjelajah dalam mulutnya. Benak Mila silih berganti antara panik dan terangsang lalu panik lagi. Orang tuanya ada di lantai bawah sekarang ini.

Bimo membelai buah dada Mila. Dia rasakan puting Mila mengeras dan diapun tersenyum, mengetahui dia sudah berhasil mendapatkan Mila. Menyetubuhi Mila di malam sebelum dia menikah akan jadi penaklukannya yang terbesar. Mungkin saja dia akan menyuruh Mila memakai baju pengantinnya, menyetubuhinya dengan memakai itu. Bimo bayangkan Mila berjalan menuju altar, dengan bercak-bercak bekas spermanya yang mengering pada gaun pengantinnya.

Bimo julurkan tangannya ke pangkal paha Mila dan tusukkan jarinya ke dalam vagina Mila. Brengsek, si binal ini sudah basah kuyup! Bimo merasa gembira mendengar Mila melenguh saat dia mengocoknya dengan jarinya. Sialan, ini akan jadi lebih gampang dari yang dia kira.

"Rasakan ini," kata Bimo, menekankan ereksinya ke perut Mila. Kemudian dia genggam tangan Mila dan membuatnya memegang batang penisnya. "Kamu kangen batang besarku?"

Mila rasakan sekujur tubuhnya disengat rangsangan saat dia sentuh batang penis Bimo. Terasa begitu keras dan besar. Mila merasa lututnya lemas, vaginanya terbakar birahi, tubuhnya mendambakan kepuasan seksual. Tapi dia tak bisa menghianati Aldi lagi, dia tak bisa, tidak di malam sebelum dia menikah!

"Nggak, Bimo, jangan," protesnya dengan sisa kekuatan terakhirnya, dia dorong Bimo menjauh.

Bimo tersenyum dan menarik tubuh Mila kembali. "Kamu ingin kasar, hah? Ok, aku bisa melakukannya." Dia sentakkan turun resleiting rok Mila dan dengan kasar membetotnya turun hingga lantai, kemudian dia renggut paksa hingga robek celana dalam Mila, menyisakan si calon pengantin yang cantik hanya memakai thigh highs dan sepatu. Dia hempaskan Mila ke atas ranjang, hingga ranjang tersebut berderit keras menghantam dinding. Dia lepaskan baju dan celananya, mengeluarkan batang penisnya.

Mila tak bisa mencegah memandangi tubuh Bimo dengan hasrat tertahan. Hampir dia lupakan betapa mengagumkan Bimo terlihat, begitu kekar dan gagah. Serta urat yang menghiasi bagian sisi batang penisnya yang panjang dan gemuk membuat Mila gemetar menanti. Dia tak pernah bisa menolak Bimo dan sekarang ini, hormon tubuhnya begitu menggila, tubuhnya mendambakan Bimo melebihi yang pernah dia rasakan selama ini.

"Mila, sayang," terdengar suara dari luar kamar. "Kamu nggak apa-apa? Kurasa aku dengar suara keras tadi."

Mila dan Bimo sama-sama menatap pintu kamar. "Oh my god, itu mamaku!" bisik Mila cepat, wajahnya memancarkan campuran rasa lega dan kecewa. Suara mamanya telah mengembalikan kesadarannya. "Pergilah sekarang, atau aku janji akan teriak."

Bimo nyaris tertawa. "Kamu nggak akan berani," tantangnya.

"Aku berani sumpah, Bimo. Kalau kamu nggak pergi sekarang, aku akan teriak diperkosa!"

Bimo sadar Mila serius. "Brengsek Mila, kamu tega melakukan ini padaku, setelah semua kenangan kita bersama selama ini?" lalu dia menunjuk pada penisnya yang begitu keras. "Apa yang harus kulakukan dengan ini?"

"Mila, sayang, kamu nggak apa-apa?" mereka dengar mama Mila memanggil. Suaranya terdengar mendekat, mamanya tentu sedang menaiki tangga, dan sebentar lagi akan mengetuk pintu kamar tersebut. Mila sadar kalau dia butuh kerja sama dari Bimo. Dia tak punya waktu untuk berdebat dengan Bimo lagi, dia butuh kerjasamanya sekarang juga, atau mereka akan tertangkap basah.

"Ok, ok, ok," bisik Mila cepat. "Sembunyi di dalam almari pakaian, dan... dan..."

Dia berhenti, berpikir dengan cepat, memikirkan pilihannya.

"Sembunyilah dalam almari dan akan kuberi kamu blowjob, akan kuhisap kamu sampai keluar."

Mila melihat Bimo merengut padanya. "Itu pilihan terbaik yang bisa kamu dapat!" desisnya pelan. "Atau, aku akan teriak perkosaan!"

Mereka dengar suara langkah kaki tepat di depan pintu. Bimo tahu dia tak punya pilihan. Dia mengangguk setuju, lalu menghilang ke dalam almari.

Pintu kamar diketuk. Dengan cepat Mila pakai jubah mandinya dan bukakan pintu. "Hai ma," ucapnya, dia paksakan untuk tersenyum. "Nggak apa-apa, aku Cuma terpelest saja kok."

Mamanya terlihat khawatir. Dia tepuk pelan perut Mila. "Kamu harus hati-hati, sayang, kamu punya yang berharga sedang tumbuh di dalam sini."

"Aku tahu ma," jawab Mila, berusaha terdengar riang. "Aku hanya sedikit gelisah menunggu besok. Selamat tidur."

Sesaat kemudian, Bimo menghambur keluar dari dalam almari sambil menyeringai.

"Aku senang kamu menikmatinya," kata Mila sinis.

"Well, sebenarnya aku lebih suka menyetubuhimu, tapi aku sudah temukan cara agar blowjob jadi menarik."

Mila melotot padanya. "Kamu nggak pernah komplain soal blowjob sebelumnya." Mila mengisyaratkan Bimo untuk duduk di ranjang. "Ayo, kita selesaikan ini."

"Nggak usah buru-buru," kata Bimo, dia duduk di tepi ranjang. "Partama, buka pakaianmu."

Mila ragu, kemudian dia angkat bahunya. Apa bedanya? Bimo sudah sering melihat tubuhnya. Dia lepaskan tali jubah mandinya dan menjatuhkannya ke lantai, lalu dia berlutut di antara paha Bimo.

"Kubilang, nggak usah buru-buru. Temanmu memberimu sebuah bustier baru, kan? Sarah cerita padaku. Kamu akan memakainya besok, di dalam gaun pengantinmu? Pakai sekarang."

Mila melotot pada Bimo. Dia tahu apa yang Bimo mau. Bimo ingin jadi pria pertama yang akan menyentuhnya dalam balutan bustier tersebut. Jadi pria pertama yang akan berhubungan seks dengannya saat memakai itu. Untuk mengalahkan Aldi tentunya.

"Cepatlah," desak Bimo dengan seringai jahatnya. "Ini akan jadi lebih cepat kalau kamu turuti apa yang kukatakan."

Mila sadar kalau Bimo benar. Lagipula, dia tak punya waktu untuk berdebat dengannya. Mama atau saudaranya bisa saja datang setiap saat. Dia harus mengeluarkan Bimo dari kamarnya dan dia harus melakukannya dengan segera.

Sambil mengangkat bahunya, Mila bangkit dan mengambil bustier tersebut dari tumpukan lingerie pengantinnya. Warnanya putih tulang dan terbuat dari sutera mahal, berhiaskan corak renda yang rumit, sebuah bustier pengantin bergaya klasik. Dia kenakan di tubuhnya, lalu mulai memasangkan garter straps ke thigh highs yang sudah dia pakai.

"Bukan yang itu," kata Bimo, menggelengkan kepala. "Pakai yang akan kamu pakai besok."

Mila melotot pada Bimo, tapi mereka berdua tahu Mila tak punya waktu untuk berdebat. Dia lepas thigh highs hitam yang dia pakai tadi, kemudian dia ganti dengan yang berwarna putih. Stocking untuk gaun pengantinnya memiliki bagian pangkal berenda yang lebar dan dia kaitkan dengan straps bustiernya.

"Dan sekarang sepatunya. Pakai yang untuk besok juga."

Mila sudah tak ingin memelototi Bimo lagi kali ini. Dia ambil sepatu untuk pernikahannya besok, bertekstur sutera warna putih tulang dan memiliki tumit setinggi 3 inchi, dia memakainya.

"Bagus, sangat cocok," puji Bimo. "Aldi benar-benar pria beruntung. Sayangnya dia nggak bisa memuaskanmu seperti aku." ejeknya. "Satu lagi. pakai kerudungnya."

Mila ragu, dia rasa Bimo sudah keterlaluan. Tapi dia juga sudah terlalu lama berada dalam kamarnya. Akhirnya dengan enggan dia kenakan kerudung pengantinnya.

Setelah Mila memakainya, Bimo kembali mengangguk kagum memandanginya. Mila terlihat memukau, lugu dan sekaligus binal juga, selayaknya mimpi basah dari semua top model bugil majalah pria dewasa. "Ayo," perintahnya, dia buka pahanya lebar. "Kamu tahu apa yang harus kamu kerjakan."

Mila berlutut dan dia genggam batang penis Bimo. Selalu saja membuatnya kagum, meskipun kedua telapak tangannya menggenggam bertumpukan, masih tetap ada bagian yang tersisa.

Seingat Mila, belum pernah dia rasakan batang penis Bimo sekeras sekarang ini dan kelihatannya batang tersebut berdenyut mengundangnya. Dia tepiskan kerudungnya ke samping dan mulai memasukkan ujung  penis Bimo ke dalam mulutnya, kedua tangannya masih tetap menggenggam di bawah. Kerudungnya jatuh menutupi wajahnya dan dia kembali tepis ke samping lagi, kali ini ke belakang telinga, berharap tidak jatuh ke depan lagi. Dia tak mau jadi ternoda oleh cairan pre-cum Bimo.

Susah payah Mila masukkan batang penis Bimo ke dalam mulutnya. Dia hampir lupa bagaimana cara memblowjob batang penis dengan ukuran yang besar. Bagaimana sulitnya. Dan juga, betapa menyenangkannya.

Dia tergoda untuk memainkan jarinya di vaginanya sendiri. Itu yang selalu dia lakukan dengan Bimo waktu dulu. Mila akan memainkan vaginanya dengan jarinya sendiri, saat Bimo setubuhi mulut dan wajahnya. Tapi rasa marah dan bencinya mencegah Mila melakukan hal itu. Dia tak mau memberi Bimo rasa puas, tak ingin Bimo merasa kalau dia menkmati semua ini barang sedikitpun.

Bimo tak sanggup bertahan lama. Dengan cepat dia mulai menggelinjang tak karuan. Dengan susah payah Mila berusaha untuk tak melepaskan batang penis Bimo dari mulutnya. Kemudian tubuh Bimo mengejang, pahanya mengencang, pantatnya terangkat naik dari atas ranjang dan dia berejakulasi, mengerang puas saat orgasme menyengat tubuhnya.

Mila tetap berusaha agar bibirnya terus mengunci kepala penis Bimo. Dia berusaha untuk menelan semua sperma yang disemburkan Bimo, dia tak mau sampai menodai busana pengantinnya. Tapi Bimo tak akan membiarkannya. Dia lepaskan paksa mulut Mila dari penisnya, lalu dengan kejamnya dia sembur wajah, rambut, kerudung dan bustier Mila dengan spermanya yang kental.

"Argh, bajingan kamu!" teriak Mila sembari berlari ke kamar mandi dalam kamar tidurnya. Dia ambil handuk dan berusaha semampunya untuk menghapus sperma Bimo dari kerudung dan bustiernya.

Bimo menyeringai jahat. Seharusnya kamu biarkan aku setubuhi kamu, batinnya. Mungkin aku akan keluarkan di dalam saja.

Bimo kenakan pakaiannya dan menuju ke jendela, siap untuk pergi. Dia menatap Mila, air matanya meleleh membasahi pipinya, masih berusaha membersihkan spermanya dari kerdudung dan bustiernya dengan susah payah. Bimo nyaris tertawa. Dia lirik paha Mila. Stockingnya jadi meninggalkan bekas sedikit cacat, terlihat pada lututnya karena berlutut saat dia memblowjobnya. Bimo julurkan tangan memegang tumpukan lingerie pengantin Mila. Dia lihat cadangan stocking pengantin Mila, masih terlipat rapi dalam bungkusnya. Bimo mengambilnya dan langsung dia masukkan ke dalam sakunya. Dia tersenyum, karena dia tahu Mila tak akan punya pilihan lagi selain harus memakai stocking yang dia pakai sekarang untuk pernikahannya besok.

*****

Bagian 11

Beberapa hari kemudian...

Aldi berusaha secepatnya untuk selesaikan emailnya. Dia menyesal harus bekerja di bulan madunya, tapi kantornya tengah berusaha untuk menggoalkan sebuah proyek besar, dan dia harus selalu tahu perkembangannya setiap saat.

Dia pandang keluar jendela. Mila, pengantin barunya, sedang menunggunya di pantai. Dia terlihat memukau dengan bikini string barunya. Usia kandungannya baru sebulan lebih dan belum terlihat di tubuhnya.

Dia saksikan Mila sedang bicara dengan seorang pria yang memakai celana renang speedo. Dia tak bisa percaya ada pria yang mau pakai celana renang model begitu. Ukurannya bahkan lebih minim dibanding bikini wanita.

Pria itu membantu Mila mengambil snorkel dan kaca mata selam. Aldi baru sadari kalau pria itu tentunya guide wisata snorkeling mereka. Aldi saksikan pria itu tertawa dan mengobrol dengan Mila saat dia membantunya membetulkan kaca mata selamnya. Terlihat jelas kalau pria itu tengah menggoda isteri barunya. Aldi meraih teropongnya, yang sebenarnya disediakan resort ini untuk melihat burung-burung.

Pria itu seumuran mereka dan berpostur tinggi serta berkulit gelap, yang pastinya karena sering berada di bawah sengatan matahari saat jadi guide untuk para pelancong. Wajahnya khas pria lokal, karena memang sekarang mereka sedang berbulan madu di pulau indah ini. Tubuhnya tegap berotot, berdada bidang, perut six pack dan lengan serta pahanya tampak begitu kuat. Wajahnya sangat berkesan jalanan dengan senyuman yang berhiaskan deretan gigi putih.

Tapi apa yang menarik perhatian mata Aldi adalah selangkangan si pria dan tonjolan besar di depan celana renangnya. Terlihat sangat besar dan kelihatannya pria itu suka memperlihatkan yang dipunyainya. Saat Mila duduk di bangku dan mencoba flippernya, pria itu berdiri di hadapannya, selangkangannya begitu dekat dengan wajah Mila. Aldi tambahkan zoom teropongnya. Celana renang pria itu sangatlah ketat hingga begitu jelas memperlihatkan bentuk kejantanan di selangkangannya. Aldi fokus pada wajah Mila. Wajahnya terlihat sedikit merona. Lalu dia fokus pada bikini atas Mila. Putingnya terlihat menonjol jelas di balik kain bikini atasnya.

Aldi buka resleiting celananya dan keluarkan penisnya. Dia genggam batang penisnya. Dengan mudah dia genggam seluruh batangya, dari pangkal hingga kepala. Bahkan Mila bisa melakukan hal yang sama, meskipun genggaman tangannya lebih kecil lagi.
Apa yang disaksikannya di pantai membuatnya terangsang. Bukan hal yang mengejutkan kalau Mila didekati pria. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya terlalu sayang untuk dilewatkan pria manapun. Yang membuatnya terkejut, ternyata itu juga membuatnya begitu terangsang, perasaan cemburu menyaksikan Mila memberi respon pada pria yang coba mendekatinya, ternyata membuatnya sesak nafas dan kepalanya serasa berputar oleh deraan birahi.

Saat dia bermasturbasi, dia teringat pesta resepsi pernikahan mereka. Ditengah berlangsungnya pesta, dia terkejut saat mendapati bekas sedikit cacat pada stocking Mila. Cacat itu pada lututnya, model cacat yang hanya bisa didapat saat berlutut lama, berlutut lama jika memberikan sebuah blowjob. Sesudahnya, saat dia menanyakan, Mila bilang pasti itu didapat saat dia berdandan. Tapi Aldi menyangsikannya. Dia juga menemukan sebuah bercak pada bustier Mila. Dia tak begitu yakin, tapi noda tersebut tercium seperti noda sperma. Apa Mila memberikan blowjob pada Bimo, di hari pernikahan mereka, mungkin saat Mila sedang berdandan? Mungkin sebagian spermanya tersembur mengenai bustiernya? Aldi mengerang dan berejakulasi dalam genggamannya saat dia bayangkan Mila mengenakan busana pengantinnya, berlutut di hadapan Bimo, dengan batang penis Bimo yang besar di dalam mulutnya.

Dengan cepat Aldi bersihkan dirinya dengan tisu. Lalu dia pakai pakaian renangnya dan bergegas menuju pantai.

Pria itu memperkenalkan diri, namanya Dende. "Anda bisa dapatkan kaca mata, snorkel dan flipper dari locker di sana," ucapnya pada Aldi dengan nada yang terdengar acuh. Saat Aldi berjalan menuju locker, Dende melanjutkan kesibukannya pada perlengkapan Mila, tertawa dan menggodanya seperti yang dia lakukan sebelum kedatangan Aldi.

"Dende, locker ini dikunci," kata Aldi saat mencoba buka pintunya.

"Nggak, pintunya memang sedikit berat," jawab Dende, sambil mendekat. Dengan begitu gampang dia buka pintu tersebut dengan satu tangan, otot lengannya terlihat mengeras. Dengan seringai di wajahnya, dia pukul dada Aldi dengan bercanda. "Anda butuh olah raga, bung." Dia remas otot bisep Aldi yang lembut saat dia mengedip pada Mila. "Ganti lemak ini dengan otot. Lagian, anda punya isteri seksi yang harus dibahagiakan."

Dende tertawakan guyonannya, tapi Aldi terbakar dalam hatinya. Dadanya yang dipukul Dende tadi terasa sakit, tapi dia tak mau mengusapnya. "Dasar brengsek," gerutu Aldi saat dia duduk di samping Mila untuk mencoba flippernya.

"Ah, dia kan cuma bercanda," kata Mila sambil meremas lengan Aldi. Dia meremasnya, seperti yang dilakukan Dende tadi. "Kurasa tubuhmu ini sudah sempurna."

Mereka masuk ke air untuk memasang peralatannya. Saat Aldi sedang sibuk berusaha memasang flipper dengan gelombang ombak yang menghantamnya, dia dapati dirinya terpisah dengan Mila dan Dende sekarang. Aldi menoleh ke arah mereka. Dende yang membantu Mila memasang perlatannya, membuat posisi Dende merapat pada Mila. Mereka nyaris bersentuhan saat Dende membetulkan tali kaca mata selam Mila. Meskipun dia tak bisa melihat, sebab dari pinggang ke bawah mereka berada dalam air, Aldi menerka mungkin Dende menekankan tonjolan selangkangannya pada isterinya. Aldi merasa batang penisnya berdesir membayangkan hal itu.

Saat mereka menyelam di terumbu karang, Dende hanya memberikan seluruh perhatiannya pada Mila, saat menunjukkan indahnya kehidupan bawah laut. Dende dan Mila adalah perenang dan penyelam yang berfisik lebih kuat dibandingkan Aldi. Awalnya, mereka bertiga masih beriringan, seringnya Mila menunggu agar Aldi dapat menyusul. Namun seiring berjalannya tur tersebut dan pemandangannya bertambah menarik, mereka mulai terpisah. Mila dan Dende terus pergi untuk mendapatkan pemandangan bawah laut yang lebih bagus dan Aldi berjuang untuk dapat menyusul mereka.

Di perairan yang jernih, Aldi bisa melihat keduanya. Terkadang, Dende akan memegang pinggang Mila untuk memberinya tanda, terkadang hingga dekat pantat Mila. Terkadang saat mereka berhenti untuk melihat sesuatu, paha mereka akan saling bersentuhan. Terkadang tiba-tiba saja Dende berputar dan membuat tubuhnya menempel rapat pada tubuh Mila, dada kekarnya menekan buah dada Mila, batang keras di selangkangannya menggesek paha Mila.

Satu jam kemudian mereka kembali ke permukaan. Setelah menaruh semua peralatan ke dalam locker, mereka duduk santai di kursi pantai. Wajah Mila terlihat merona merah.

Mata Aldi melirik buah dada isterinya. Putingya terlihat keras dan membekas jelas pada bikini atasnya. Apa Dende telah membuatnya terangsang?

"So, apa rencana kalian berikutnya?" tanya Dende.

"Oh, belum tahu," jawab Aldi. "Kami belum punya rencana. Mungkin hanya santai-santai saja di pinggir kolam, lalu cari makan malam."

"Restoran terbaik di sini adalah Baja Salsa," ucap Dende meyakinkan. "Nggak terlalu dipublikasikan, jadi nggak banyak turis yang tahu dan makanannya lezat. Di sana selalu ada live band dan dansa."

"Kedengarannya menarik. Gimana menurutmu, honey?"

Mila mengangkat bahu, tak melihat ke arah Aldi maupun Dende. Dia terlihat bingung. "Nggak tahu. Aku sedang memikirkan sesuatu yang lebih tenang, mungkin cuma room service saja." Lalu dia berdiri. "Ayo, honey, kita balik ke hotel."

"Baiklah," jawab Aldi, agak terkejut dengan kekasaran isterinya. Baru saja dia akan berdiri saat dia melirik ke bikini bawah Mila, yang ada di depan matanya. Hampir saja Aldi menjerit, karena pada kain tipis tersebut tercetak sebuah camel toe. Tak diragukan lagi, isterinya telah terangsang oleh Dende.

Begitu Mila melangkah menuju ke hotel, Aldi melirik ke arah Dende, yang tersenyum padanya dengan pongah. Jelas sudah kalau Dende juga melihat camel toe Mila. Dende berpaling untuk menatap Mila yang berjalan menjuh, matanya menatap tajam dari pantat ke paha jenjang Mila, sama sekali tak peduli untuk menyembunyikan dari Aldi, akan rasa tertariknya terhadap pengantin barunya.

Jantung Aldi berdebar kencang. Saat dia berjalan menyusul Mila, dia betulkan celana renangnya agar ereksinya tak terlihat.

*****

Beberapa jam kemudian, Aldi pergi ke resepsionis saat Mila berdandan. "Aku dan isteriku berencana untuk pergi ke Baja Salsa malam ini. Gimana menurutmu tempat itu?"

Sang resepsionis, seorang pria paruh baya, menatap Aldi dengan khawatir. "Tuan, anda dan isteri anda sedang bulan madu, kan?"

"Benar. Dende, instruktur diving kami, merekomendasikan tempat itu pada kami."

Sang resepsionis tampak semakin khawatir. Dia lihat sekeliling untuk memastikan tak ada seorangpun yang mendengar. "Tolong jangan katakan pada siapapun kalau saya katakan ini," bisiknya. "Dende teman dekat pemiliknya dan dia bisa membuatku di pecat. Tapi Baja Salsa itu tempat untuk orang yang masih single, bukan orang yang sudah menikah seperti anda. Tempatnya sangat liar... gimana bilangnya ya? Sebuah tempat ‘pasar daging’. Dan Dende,... dengarkan saranku, tuan, jaga isteri anda jangan dekat-dekat dengan Dende. Dia suka... dia suka dengan isteri orang, wanita yang sudah bersuami, anda paham maksud saya, kan?"

Aldi mengangguk pelan dan memberi uang tips pada sang resepsionis. Dengan pelan dia berjalan balik ke kamarnya, jantungnya berdebar kencang. Begitu dia buka pintu kamar, dia dapati Mila sedang memberi sentuhan akhir pada rambut dan makeupnya. "Aku baru saja ngobrol dengan resepsionis," ucapnya, puluhan kupu-kupu terbang di dalam perutnya. "Dia juga suka Baja Salsa, dia sangat merekomendasikannya."

*****

Bagian 12

Antrian masuk ke Baja Salsa sangatlah panjang, tapi itu karena malam ini adalah ladies’ night (Aldi baru tahu kemudian ternyata di sana memang selalu ladies' night), jadi mereka diantarkan hingga ke bagian depan antrian. Puluhan kepala menoleh saat mereka masuk. Mila terlihat begitu menawan, mengenakan sebuah sundress sederhana. Dengan bagian atas ditopang dengan spaghetti straps yang tipis dan bagian bawah hanya sampai di pertengahan paha. Penampilannya disempurnakan dengan sepasang ankle strap high heels membungkus kakinya. Di balik gaunnya dia pakai strapless bra dan celana dalam sutera berenda.

Mereka dapat sebuah meja dan tiba-tiba saja seorang pria mendatangi mereka dan meminta Mila untuk berdansa. Beberapa saat setelah dia menolak, ada seorang pria lagi yang mengajak. "Aku nggak percaya gimana beraninya para pria di sini," ucapnya pada Aldi seusai dia tolak ajakan pria kedua tadi. "Maksudku, aku pakai cincin kawin dan kamu ada di sampingku."

Aldi juga merasa terganggu, tapi juga penasaran. Dia angkat bahu dan setelah mempelajari daftar menu selama beberapa saat, merekapun memesan makanan.

Lalu, secara berturut-turut, ada dua lagi pria yang mengajak Mila berdansa. Aldi dan Mila tertawa dengan kekonyolan tersebut. Kemudian sebelum seorang pria lagi yang datang dan berkata untuk mengajak isterinya berdansa, Aldi tertawa lagi. "Lebih baik kamu meng-iya-kan saja, honey. Kurasa mereka nggak akan berhenti mengajakmu sampai kamu berdansa dengan salah satu dari mereka."

Mila juga tertawa dan mengikuti pria tersebut ke lantai dansa. Aldi menyaksikan mereka berdansa dalam irama lagu yang cepat. Lalu sebuah lagu bertempo lambat mulai diputar dan pria itu membisikkan sesuatu ke telinga Mila. Mila gelengkan kepala dan kembali ke mejanya.

"Apa yang dia bisikkan?" tanya Aldi.

"Dia mengajakku berdansa dengan lagu slow ini, tapi kubilang aku harus kembali ke sampingmu."

Saat mereka menunggu pesanannya datang, Aldi dan Mila turun ke lantai dansa saat lagunya berganti dengan tempo cepat lagi, disambung dengan sebuah lagu slow berikutnya. Baru saja mereka duduk kembali di meja mereka, pesanan mereka datang. Kondisi kehamilan Mila saat ini membuatnya tak begitu berselera makan. Sebenarnya dia merasa lebih banyak bergerak lebih baik bagi dirinya dari pada hanya duduk saja. Lalu, saat ada seorang pria lagi yang mengajaknya berdansa, Aldi berkata, "Turun saja honey, aku akan nikmati makanannya dulu."

Aldi saksikan mereka berdansa dalam irama lagu yang tinggi dan disambung dengan lagu berikutnya. Sedikit demi sedikit mereka hilang dalam keramaian lantai dansa. Beberapa lagu berikutnya berlalu dan Mila masih belum kembali ke meja mereka. Merasa curiga, Aldi bangkit dan melangkah menuju kerumunan di lantai dansa. Akhirnya dia temukan Mila. Dia sedang berdansa dengan seorang pria, tapi bukan dengan pria yang mengajaknya tadi. Kerongkongan Aldi berubah kering saat dia tahu bahwa ternyata pria yang tengah berdansa dengan Mila tersebut adalah Dende.

Lagunya bertempo cepat, tapi Mila dan Dende berdansa dengan tempo lambat. Tubuh mereka begitu dekat, nyaris bersentuhan. Keduanya terlihat begitu asik mengobrol, bicara di telinga satu sama lain agar dapat terdengar di tengah kerasnya suara musik dan keramaian. "Mungkin mereka hanya ngobrol tentang diving tadi siang," pikir Aldi.

Lalu Aldi perhatikan jari Dende bergerak menyusuri salah satu spaghetti straps Mila. Mila menghentikannya begitu jari Dende mulai mendekati tonjolan buah dadanya. Mila gelengkan kepalanya menolak dan Dende hanya tertawa. Dende lingkarkan lengannya di pinggang Mila dan mulai menuntunnya ke bagian belakang club tersebut. Mila menghentikannya dan menanyakan sesuatu. Jawaban Dende tampak menenangkan Mila, karena dia membiarkan saja saat Dende menuntunnya menuju ke belakang club tersebut.

Aldi membuntuti, dengan berhati-hati berusaha agar selalu berada di belakang kerumunan orang agar tak terpergok. Mereka berhenti di salah satu dinding ruangan dan kelihatannya Mila mengira mereka hanya akan berdiri di depan dinding tersebut untuk melihat keramaian orang-orang sejenak. Ternyata, Dende berusaha memposisikan agar Mila bersandar di tdinding dan dia berdiri di depannya, tubuh mereka nyaris bersentuhan. Dende rendahkan kepalanya mendekati Mila. Tampak Dende berbisik di telinga Mila. Selang beberapa saat, Mila mulai gelisah. Dia terlihat bicara dengan keras pada Dende dan Mila mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin kawin mereka. Dende tertawa dan dia kembali menunduk dan berbisik di telinga Mila. Mila mulai telihat risau lagi dan raut wajahnya terlihat panik, seperti seekor rusa yang kena sorot lampu mobil. Aldi menerka-nerka apa yang sedang terjadi dan kemudian dia menyadari kalau dia tak bisa melihat tangan Dende karena terhalang oleh tubuh Mila.

Tepat di saat itu, ada pasangan yang sedang berdansa dengan tak sengaja menabrak Dende, hingga mendorong tubuhnya ke samping. Mila terlihat seolah tersadarkan diri dan dengan cepat dia melangkah pergi. Aldi bergegas membelah keramain orang agar sampai lebih dulu ke meja mereka.

"Hai honey, dari mana saja kamu?" tanya Aldi. "Aku sudah mulai cemas."

"Maafkan aku," jawab Mila, pipinya tampak merona merah. "Aku suka dengan musiknya, kelihatannya aku jadi lupa waktu."

Aldi perhatikan kalau isterinya tak menyinggung telah bertemu Dende, hatinya terasa cemburu dan juga gairah gelapnya terasa bangkit. Dia yakin melihat puting isterinya mengeras, meskipun di balik bra dan sun dressnya. Dia membayangkan apakah celana dalam isterinya sudah basah sekarang. Dia yakin kalau itu sangatlah mungkin. Bayangan tersebut membuat benaknya penuh berselubung gairah gelap.

*****

Permainan cinta mereka malam itu berlangsung begitu penuh gelora, tapi hanya berlangsung singkat. Begitu bergairahnya Aldi hingga hanya dalam beberapa kali sodokan saja, dia langsung keluar.

Paginya, kegelisahan dan perasaan sakit serta cemburu kembali hadir. Tapi begitu Aldi memikirkan bagaimana Dende merayu isterinya di lantai dansa kemarin malam dan di manakah sebenarnya tangan Dende berada dan apa yang sebenarnya sudah dilakukan mereka, membuat birahi Aldi langsung bangkit kembali. Dia cek emailnya. Bossnya butuh laporan, tapi sebenarnya mudah saja kalau dia suruh sekretarisnya mengerjakan itu. Tapi kemudian dia memikirkan tentang Dende lagi dan apa yang dikatakan sang resepsionis: " Dengarkan saranku, tuan, jaga isteri anda jangan dekat-dekat dengan Dende. Dia suka... dia suka dengan isteri orang, wanita yang sudah bersuami, anda paham maksud saya kan?"

Dengan hati serasa ada di tenggorokannya, Aldi teriak pada pengantin barunya. "Honey, bossku menyuruhku menyiapkan laporan hari ini."

"Oh tidak," jawab Mila, dia kalungkan lengannya di leher Aldi. "Ini kan bulan madu kita. Butuh berapa lama menyelesaikan laporanmu?"

"Hanya aku yang bisa membuat laporannya, karena ini di tanggung jawabku," dusta Aldi. "Paling tidak aku bisa menyelesaikannya sampai sore."

Mila tampak kecewa dan Aldi melihat kesempatannya. "Hey, aku punya ide," ucapnya dengan nada gembira. "Kelihatannya kamu sangat suka diving kemarin. Kenapa nggak kamu hubungi instruktur selam... siapa namanya, Dende? Dia bisa memberimu tur lagi hari ini."

"Aku nggak tahu," jawab Mila ragu, dia palingkan pandangannya untuk menghindari mata Aldi. "Aku nggak yakin apa aku suka dengannya."

"Oh ayolah, dia hebat dan kemarin dia bilang ada bangkai kapal tenggelam di suatu tempat. Mungkin saja ada pemandangan yang cantik di sana, dia bisa memperlihatkannya padamu."

"Tapi, aku nggak tahu..." jawab Mila bimbang, tapi Aldi rasa dia menangkap sedikit kegembiraan dalam suara isterinya.

"Honey, aku bisa selesaikan laporannya lebih cepat kalau nggak ada kamu di sini. Bersiaplah sana dan hubungi toko alat selamnya dan atur turnya."

*****

Mila keluar dari dalam kamar tidur beberapa menit kemudian. Aldi perhatikan kalau isterinya menyisir rambutnya dan bahkan memakai makeup. Dia juga mencium bau parfum. Isterinya memilih bikini stringnya yang paling minim untuk dipakai sekarang. Semua bikini yang dibeli Mila untuk bulan madunya banyak memamerkan kemulusan tubuhnya, Tapi yang ini, bagian atas berbentuk segitiga yang menutup buah dadanya berukuran lebih kecil. Bikini tersebut lebih cocok untuk dipakai berjemur di pinggir kolam, bukannya untuk pergi menyelam.

Aldi pura-pura tak perhatikan bagaimana Mila mendandani dirinya. Dia arahkan matanya terus fokus pada layar komputernya, pura-pura terus kerja. Mila sendiri, bergegas melewati ruangan itu, terlihat berharap suaminya tak perhatikan bagaimana dia berdandan.

Aldi keluarkan teropongnya dan mengamati Dende membantu Mila naik ke atas kapalnya. Tampaknya, mereka harus berlayar ke kapal yang tenggelam terlebih dulu. Dende bertelanjang dada, tapi dia tak memakai speedo, melainkan sebuah celana pendek yang longgar.

Empat jam ke depan bagaikan sebuah siksaan bagi Aldi. Dia tak bisa hentikan membayangkan apa yang mungkin dilakukan Dende terhadap pengantin barunya. Apa Dende menciumnya, sekarang ini? Apa dia sedang meremas buah dada isterinya? Apa dia sedang menyetubuhinya? Atau mungkin batang penisnya sudah terbenam dalam vagina Mila, dan sekarang berada dalam kuluman mulut Mila, untuk dibuat ereksi lagi agar bisa disodokkan dalam vagina pengantin barunya sekali lagi.

Aldi mengocok dengan cepat. Dia sudah ejakulasi dan kemudian rasa menyesal serta bersalah hinggap di hatinya. Lalu saat dia memikirkan apa yang mungkin tengah dilakukan Dende dengan Mila (atau menonton video Mila dengan Bimo atau Mila dengan Jacques, atau tentang bekas cacat di stocking Mila pada hari pernikahan mereka, atau bau sperma pada bustier pengantinnya), dan gairahnyapun langsung meninggi dan dia kembali bermasturbasi lagi.

Sekitar pukul 1, Aldi melihat kapal mereka kembali. Dende membantu Mila turun dari kapal dan mengatakan sesuatu pada Mila. Mila menggelengkan kepala menolak, lalu mulai melangkah kembali ke kamar hotel mereka.

Aldi Berpikir sejenak, lalu dia membuat keputusan. Dengan cepat dia menulis dalam selembar notes dan meninggalkannya di atas meja. Dia sambar camcordernya kemudian bersembunyi di dalam almari pakaian, dengan memastikan menyisakan sedikit celah di pintu agar dia bisa mendapatkan pandangan dari ranjang sepenuhnya.

*****

"Aldi?" panggil Mila begitu dia masuk ke dalam kamar hotel mereka. Dia lihat sebuah kertas notes di atas meja dan membacanya: "Hai honey ? aku harus pergi ke kota untuk cari warnet, harus browsing buat bahan laporannya. Aku akan kembali saat makan malam. Love, Aldi"

Mila membiarkan notes tersebut jatuh ke atas lantai, lalu dia duduk di pinggir ranjang, pandangannya menerawang jauh, dia tak tahu harus berbuat apa. Dia merasa cemas dan tegang, dia merasa hampir gila. Tubuhnya berteriak padanya, merengek padanya, terus menerus mengingatkannya tentang kebutuhannya dan memohon padanya untuk sebuah penyaluran dan kepuasan. Dia berusaha semampunya untuk mengendalikan tubuhnya, tapi dia merasa pikiran dan hatinya telah kalah dalam pertempuran dengan tubuhnya sendiri.

Semua itu berawal dengan Bimo, di malam sebelum hari pernikahannya. Dia sudah tahu siapa Bimo sesungguhnya dan dia berjanji untuk tak bicara lagi dengan Bimo. Tapi semua rabaan dan sentuhannya pada tubuhnya, serta blowjob yang dia berikan padanya, telah memantikkan sepercik api pada gairah tubuhnya.

Semua jadi bertambah parah kemarin, saat dia bertemu Dende. Langsung saja Mila tertarik padanya. Pesona ketampanan yang kasar, tinggi kekar, kulitnya gelap oleh sengatan matahari dan air laut, tangannya kuat dan kapalan karena kerja beratnya, penuh dengan kepercayaan diri hingga terasa arogan. Tipe pria yang selalu menarik hati Mila. Meskipun Mila tahu pria seperti itu buruk baginya, tapi dia tak bisa mencegah untuk tertarik pada mereka.

Kemarin saat divng, Dende memanfaatkan setiap kesempatan yang dia dapat untuk menyentuhnya dan menggesekkan tubuh kekarnya pada tubuhnya. Ya, Dende telah membuatnya terangsang, tapi hanya sebatas itu saja. Namun kemudian, Dende berhasil menemuinya di club dan berikutnya, berhasil menyudutkannya di dinding. Berada begitu dekat dengannya membuat lutut Mila terasa lemas, tunduk pada rangsangannya karena terperangkap di antara jepitan dinding dan tubuh kekarnya. Lalu Dende mulai berbisik di telinganya dan mengingat panas nafas Dende yang menghembus leher dan di telinganya, mampu mengirimkan getaran birahi di selangkangannya.

Kemudian Dende mulai mengelus pahanya, sebentar saja awalnya, menyentuh kulit pahanya sekilas saja. Percumbuan yang wajar, Mila meyakinkan dirinya, jarinya masih di bawah ujung rokku. Tapi kemudian Dende mulai bergerak naik, merayapi paha bagian dalamnya yang sensitif, semakin bertambah naik mendekati ujung roknya. Mila menghentikannya, mengingatkan Dende bahwa dia sudah menikah, bahkan dia angkat tangan kirinya untuk menunjukkan cincin pernikahannya. Tapi Dende cuma tertawa dan jarinya terus mendaki menaiki pahanya. Tangannya berhenti di balik roknya dan Mila merasa lumpuh tanpa daya, kepalanya menyuruhnya untuk lari, tapi tubuhnya telah terbakar dan mendambakan lebih banyak lagi sentuhan Dende.

Dende menekan ereksi di selangkangannya ke tubuh Mila, tubuhnya terus bergerak naik di dalam roknya dan di telinganya Dende merayunya untuk ikut bersamanya ke ruang belakang. Tubuhnya bertarung melawan akal sehatnya, merengek dan memohon untuk menuruti ajakan Dende. Dia tak tahu apa yang akan dia lakukan, jika saja tak ada pasangan yang tengah berdansa itu menabrak tubuh Dende. Gangguan tersebut kelihatannya mengembalikan kesadaran Mila dan dia kembali ke Aldi secepat yang dia bisa.

Tapi kemudian Aldi harus kerja hari ini dan dia memaksanya untuk pergi diving dengan Dende. Begitu mereka bertemu pagi tadi, Dende meminta maaf dengan kejadian semalam, dia menjelaskan kalau dia pasti mabuk karena terlalu banyak minum tequila. Mila merasa cemas dengan maksud tersembunyi Dende, tapi dia terlihat begitu wajar dan perhatian, serta dia juga tak memakai speedo yang kemarin, hanya sebuah celana renang pendek yang longgar saja.

Perjalanan kapal berlangsung wajar saja, Dende tak berusaha merayu ataupun coba menyentuhnya. Tapi saat Mila duduk tepat di depan Dende, celana renangnya yang longgar membuat Mila bisa melihat dengan jelas paha Dende. Mila berusaha palingkan pandangannya, tapi itu terlalu menggoda untuk diacuhkan. Mila curi lirikan saat dia rasa Dende tak perhatikan. Apa yang dilihatnya, membuat selangkangan Mila langsung terasa basah. Dende memiliki penis berukuran besar. Batangnya begitu panjang dan lembut, laksana seekor ular yang melata di pahanya. Tampak begitu lebar bagian pangkalnya dan kemudian semakin mengecil, tapi bagian kepalanya laksana kepala jamur yang besar. Mila tak mampu mencegah dengan pesona ukurannya dan bahkan itu sama sekali belum ereksi. Mila merasa bagaikan seorang wanita jalang yang mencermati ukuran kejantanan Dende dan dia marahi dirinya sendiri karena bertingkah bagaikan wanita binal yang diamuk birahi.

Saat mereka tiba di area kapal karam, Mila berharap dinginnya air dan indahnya pemandangan bawah laut akan membuatnya lupa apa yang ada dalam celana Dende. Tapi celana Dende sebenarnya bukanlah celana renang, hanya celana pendek biasa dan bahan kainnya cukup tipis. Begitu basah, celana tersebut menempel di kulitnya, hingga batangnya yang panjang dan gemuk tercetak jelas di celananya. Celana renang pendek itu sebenarnya jadi lebih mempertontonkan kejantanan Dende dibandingkan speedo kemarin, karena bahan speedo yang ketat membuat batangnya terlihat lebih kecil dari ukran yang sebenarnya.

Perjalanan balik ke resort jadi siksaan bagi Mila. Vaginanya berdenyut liar. Setelah Dende muncul dari dalam air, celananya yang basah melekat di tubuhnya layaknya kulit kedua. Dia duduk di depan Mila seperti sebelumnya, tubuhnya disuguhkan dengan bebas. Benak Mila jadi gila oleh nafsu setiap kali dia berusaha menghindar agar tak memandang tubuh Dende. "God, aku sungguh binal," dia rutuk dirinya sendiri, berusaha sembunyikan dari Dende efek yang dia beri padanya. Hormon kehamilannya yang bergejolak semakin membuatnya bertambah parah. Menyadari kalau dia baru saja menikah, juga hamil, begitu mendambakan Dende, membuatnya merasa seperti wanita murahan. Dia lilitkan handuk ke pinggangnya agar paling tidak Dende tak bisa melihat betapa basah selangkangannya.

"Kamu mau makan siang denganku?" tanya Dende saat dia bantu Mila turun dari kapal. Mila gelengkan kepala menolak, tak mengucapkan sepatah katapun karena dia takut suaranya akan terdengar gemetar dan membuka kelemahannya di hadapan Dende. Mungkin saja tubuhnya menginginkan Dende tapi dia masih bisa mengontrol kepala dan hatinya dan dia sudah menetapkan hati untuk tak akan lagi menghianati Aldi.

Dia bergegas menuju kamarnya, berharap mendapat seks di siang hari untuk melepaskan birahinya. Tubuhnya butuh kepuasan. Tapi Aldi tak ada dan baru akan kembali hingga makan malam nanti.

Masih dududk di pinggir ranjang, Mila taruh kepalanya dalam tangannya, air mata frustrasi seksual mulai mengaburkan matanya. Dia telah lakukan apa yang dia bisa. Dia naik ke atas ranjang dan dengan satu tangan masih menutupi matanya, dia turunkan tangannya yang satu lagi masuk ke dalam bikini bawahnya. Jarinya menyentuh kelentitnya dan hampir saja sengatan rasa nikmat membuatnya memekik. Dia buka pahanya lebar saat jarinya mulai  menggesek kelentitnya dengan gerakan melingkar, ombak orgasmenya datang dengan cepat.

Aldi saksikan pengantin barunya bermasturbasi dari kegelapan almari pakaian. Dia merasa lega sekaligus kecewa mendapati Mila masuk ke kamar hotel hanya seorang diri. Bagian gelap dirinya berharap Mila bersama Dende di atas ranjang. Tak diragukan, Dende sudah membuat Mila birahi dan Dendelah alasan Mila melakukan masturbasi di tengah hari. Sama sekali tiada ragu Mila tengah membayangkan Dende saat dia memuaskan dirinya sendiri. Pikiran itu membuat batang penis Aldi berdenyut.

Tubuh Mila mengejang, punggungnya melengkung naik, jari kakinya menekuk ke dalam matras dan dia mendesah panjang saat ombak orgasme menghantam tubuh mungilnya yang lentur. Namun selang beberapa saat berusaha mengatur nafasnya, Mila memukul ranjang dengan tangannya dan menangis frustrasi. Orgasme yang dia dapat bisa sedikit menolong, tapi apa yang diinginkan tubuhnya adalah sebuah persetubuhan yang selayaknya, sebuah kepuasan sejati yang hanya bisa diraih dari sebatang penis besar dan keras.

"Tadi itu sangat indah," sebuah suara terdengar dari arah pintu.

"Oh my god!" teriak Mila begitu dia lihat ternyata itu adalah Dende. Dengan panik dia tutupi tubuhnya dengan selimut. "Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu bisa masuk?"

"Kamu nggak kunci pintunya," jawab Dende ringan, senyuman bejat tersungging di wajahnya. Dia melangkah mendekati ranjang. "Sangat indah, yang tadi. Nggak ada yang lebih sexy dibandingkan seorang wanita yang bermain dengan tubuhnya."

"Kamu harus keluar," kata Mila panik, perasaannya bercampur antara takut dan mengharap. "Aku sudah menikah, kamu nggak boleh di sini."

"Kurasa kamu butuh yang lebih," ucap Dende, tak mengacuhkan ucapan Mila. Dia buka celananya dan membiarkannya jatuh ke kakinya.

"Oh god," Mila tercekat, matanya terbelalak lebar menatap batang penis Dende yang besar, ereksi dengan sempurna. Dende tertawa kecil, dia tak kaget dengan reaksi wanita dengan tubuhnya. Batang penisnya lebih keras dari biasanya sekarang ini. Dia suka menikmati keindahan tubuh wanita yang sudah bersuami. Dia suka menyetubuhi isteri orang. Ada sensasi tersendiri saat merayu dan menaklukkan isteri orang. Tapi Mila adalah seorang pengantin baru, yang sedang berbulan madu. Dan dia adalah wanita tercantik dan paling sexy dibandingkan dengan semua wanita yang pernah dia nikmati. Penaklukannya kali ini akan dia ingat dalam waktu yang sangat lama.

Mila tak melawan saat Dende menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia tak melawan saat Dende melucuti bikininya, ataupun saat dia pentangkan pahanya lebar. Dia tak menolak saat batang penis Dende menembus tubuhnya. Dia tak menolak saat Dende menyetubuhinya dan menyemburkan spermanya di dalam rahimnya. Mila sudah tak memiliki perlawanan dalam dirinya lagi, tubuhnya telah memenangkan pertarungan dengan kepala dan hatinya.

Dan dari kegelapan di dalam almari pakaian, Aldi merekam adegan yang dimainkan Dende dengan pengantin barunya, satu tangan yang gemetar memegangi camcorder dan satu tangannya yang lain mengocok penisnya dengan cepat dan keras.

TAMAT

Tidak ada komentar: